Banner
[65] Papua Merdeka Papua Merana PDF Print E-mail
Tuesday, 04 October 2011 16:58

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu

Salam Perjuangan!

Alhamdulillah, kami hadir kembali di ruang baca Anda di bulan Ramadhan 1432 H ini. Semoga keberkahan bulan yang agung ini menghinggapi kita semua sehingga kita termasuk golongan orang-orang yang shaum. Amin.

Pembaca yang dirahmati Allah, Jumat (12/8) lalu Media Umat diundang oleh Tim Pengacara Muslim (TPM) dalam buka bersama. Undangan ini lain dari yang lain karena tempatnya di ruang khusus. Apa itu? Tahanan. Ya, kami diundang buka bersama di tahanan Bareskrim Mabes Polri, Jakarta.

Pasti sudah tahu siapa tuan rumahnya kan? Ustadz Abu Bakar Baasyir. Tidak banyak tokoh yang diundang karena memang tempatnya sangat terbatas dan sempit. Mereka yang hadir adalah Ketua Umum FPI Habib Rizieq Shihab, KH Mudzakir dari Solo, Jubir HTI Ismail Yusanto, Ketua DPP HTI Rokhmat S Labib, dan pengacara TPM yakni Mahendradatta dan Achmad Michdan. Satu lagi orang yang ikut ngariung dalam perbincangan menjelang buka tersebut adalah anggota Densus 88.

Pertemuan silah ukhuwah ini berlangsung cukup akrab. Ustadz Abu yang bergamis putih dan berkopyah putih mengawali pembicaraan mengenai karut marut kondisi Indonesia. ”Semua ini tidak akan pernah tuntas kalau sistemnya tidak diganti dengan sistem Islam. Pangkal kerusakannya sebenarnya kan sistemnya itu sendiri,” katanya.

Ia kemudian membedah betapa demokrasi sistem kufur. ”Masa, untuk menerapkan hukum Allah harus meminta izin manusia?” Ia menegaskan, orang kafir tidak suka Islam ditegakkan sehingga terus mencari jalan agar Islam tidak bangkit.

Perbincangan ringan itu jeda sementara ketika waktu maghrib telah tiba. Undangan shalat berjamaah di salah satu sudut tahanan tersebut. Ustadz Abu mengimami kami semua.

Setelah itu perbincangan dilanjutkan lagi setelah sempat makan bersama. Kali ini topiknya tentang Ahmadiyah dan liberalisme. Di akhir acara, Ustadz Abu berpesan agar yang hadir tetap istiqamah dan sabar serta pantang menyerah dalam perjuangan.

Pembaca yang dirahmati Allah, tak lupa kami mengucapkan Selamat Idul Fitri 1423 H, taqabballahu minna wa minkum shiyamana wa shiyamakum kullu amin wa antum bi khair, meski fajar Idul Fitri belum terbit. Semoga puasa kita menjadikan kita sebagai hamba yang takwa.

Sekaligus pada kesempatan ini kami sampaikan bahwa sehubungan dengan libur hari raya Idul Fitri, untuk sementara waktu kami tidak terbit selama dua edisi. Nanti kami akan hadir kembali pasca Idul Fitri.

Pembaca yang dirahmati Allah, di edisi kali ini kami mengangkat topik tentang Papua. Berbagai kejadian berlangsung di sana. Ada unjuk rasa meminta referendum, aksi kekerasan, intimidasi terhadap Muslim dan sebagainya. Ada satu benang merah yang bisa ditarik dari kasus tersebut, kasus demi kasus itu tak berdiri sendiri. Semua saling terkait. Bahkan diduga ada keterkaitan pihak asing yang ingin bermain di bumi Papua.

Sebagai bagian dari negeri Muslim bernama Indonesia, disintegrasi adalah suatu yang diharamkan. Jangan sampai kasus Timor Timur terulang lagi. Usaha asing perlu dihadang dan yang terpenting, Islam harus segera diwujudkan untuk menjaga setiap jengkal wilayahnya.

Di rubrik Fokus, kami mengangkat tentang Amerika yang sedang sekarat. Tema-tema menarik bisa juga Anda dapatkan di rubrik lainnya. Kami berharap sajian kali ini bermanfaat.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu

 

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved