| [75] Rakyat Menderita Penguasa Pesta Pora |
|
|
|
| Friday, 03 February 2012 13:40 |
|
Alhamdulillah kami bisa hadir kembali ke hadapan Anda. Semoga Anda semua dalam lindungan Allah SWT dalam menjalankan seluruh aktivitas keseharian. Amin. Pembaca yang dirahmati Allah, pada Ahad (29/1) lalu kami mengadakan temu pembaca Media Umat di Masjid Al Ittihad, Cibubur, Depok, Jawa Barat. Acara yang terselenggara berkat kerja sama dengan DKM Al Ittihad ini cukup membuat kami gembira. Betapa tidak, acara ini dihadiri tak kurang dari 750 orang dari kawasan Cibubur dan sekitarnya. Masjid yang cukup besar itu rasanya seperti sempit meski telah ditambah tenda di luarnya. Sejak pukul 09.00 acara yang dipandu langsung oleh Pemimpin Redaksi MU Farid Wadjdi ini diikuti secara seksama oleh para hadirin. Kehadiran kami di tengah pembaca ini pun cukup spesial karena kami hadir dengan tim yang cukup lengkap. Para pengasuh rubrik hadir. Ada Ustadz Rokhmat S Labib (rubrik Telaah), Ustadz Hari Moekti (Dewan Penasihat), Prof Fahmi Amhar (rubrik Mercusuar), Ustadzah Irena Handono (rubrik Kristologi), dan Ustadzah Zulia Ilmawati (rubrik Konsultasi Keluarga). Acara yang dikemas secara ringan ini menjadikan temu pembaca ini begitu cair. Masukan dan kritikan pun datang. Ada yang mempertanyakan misalnya mengapa MU terkesan keras dan provokatif. Namun semua kami terima dan kemudian kami jelaskan. Hasilnya para pembaca bisa memahami penjelasan kami. Yang juga menggembirakan kami, DKM Masjid Al Ittihad pada akhir acara berkenan berlangganan MU selama satu tahun. Setiap edisi pengurus DKM berlangganan 50 eksemplar. Terima kasih secara khusus kepada DKM Al Ittihad. Ini tentu membuat kami terharu, bukan karena jumlah langganannya, tapi kepercayaan pengurus terhadap terbitan kami. Kami berharap dengan hadirnya MU di masjid ini bisa menambah wawasan jamaah. Pembaca yang dirahmati Allah, pada edisi ini kami kembali menampilkan potret masyarakat yang terjepit oleh keadaan. Mereka tidak ada pilihan, kecuali menjalani kehidupan dengan penuh tantangan meski harus bertaruh nyawa. Sementara pemerintah terdiam dan wakil rakyat asyik bermewah-mewahan. Saking menyedihkannya, gambar penderitaan itu menyebar ke seluruh dunia. Warga dunia pun iba terhadap kondisi ini. Itulah cerita jembatan Indiana Jones di Lebak, Banten. Tapi coba lihat reaksi para pejabat, biasa-biasa saja. Kondisi di Lebak ini hanya menjadi wakil dari kondisi yang jauh lebih banyak di seluruh Indonesia. Apalagi yang mau kita katakan kepada pemerintah, entah pusat atau daerah, kecuali pemerintah yang tidak terlalu peduli dengan kondisi rakyat. Pembaca yang dirahmati Allah, menarik kiranya Anda membaca pula bagaimana pandangan Islam terhadap kecelakaan maut yang terjadi di Tugu Tani, Jakarta. Ternyata secara hukum Islam, Afriani harus menerima banyak hukuman dari mulai penjara hingga membayar diat yang luar biasa besar. Berkilo-kilogram emas. Anda juga bisa menelaah Fokus yang kali ini menyoroti niat pemerintah membatasi penggunaan BBM bersubsidi. Kami pun menyajikan liputan khusus Muslim Entrepreneur Forum (MEF) di Jakarta, Kamis (26/1). Akhirnya, selamat membaca. Semoga Allah memberikan keberkahan. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu []
|




Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu 





