[35] Pemimpin Ideal Dalam Islam PDF Print E-mail
Sunday, 18 July 2010 13:35

Kepemimpinan dalam pandangan Islam merupakan amanah, yang harus dijaga dan ditunaikan sebagaimana mestinya. Ketika amanah ini diminta oleh Abu Dzar al-Ghifari dari Nabi SAW dengan tegas baginda menyatakan kepada Abu Dzar, “Sesungguhnya kepemimpinan itu adalah amanah, kehinaan dan penyesalan pada Hari Kiamat. Kecuali orang yang mengambilnya dengan sesungguhnya, dan menunaikan apa yang menjadi kewajibannya dengan baik.” Demikian pesan Nabi kepada Abu Dzar dalam hadits yang dituturkan Ahmad.

Memang, kepemimpinan merupakan amanah. Bisa menjadi kehinaan dan penyesalan bagi pemangkunya, jika dia tidak mampu menunaikan hak dan tanggung jawab kepemimpinannya. Namun, bisa juga sebaliknya, menjadi kemuliaan dan kebanggaan, jika dia mampu menunaikannya dengan sebaik-baiknya. Karena itu, dalam hadits Nabi menegaskan dua prototipe pemimpin:

“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah mereka yang kalian cintai, dan merekapun mencintai kalian. Mereka mendoakan kalian, dan kalian pun mendoakan mereka. Dan, seburuk-buruk pemimpin kalian adalah mereka yang kalian benci, dan mereka pun membenci kalian. Kalian melaknat mereka, dan mereka pun melaknat kalian.” (HR Muslim, at-Tirmidzi, Ahmad dan ad-Darimi)

Agar menjadi pemimpin yang dicintai dan didoakan oleh rakyat, seorang pemimpin harus mencintai dan mendoakan rakyatnya. Bagi pemimpin, mencintai dan mendoakan rakyat itu tidak lain adalah dengan mengurusi seluruh urusan mereka dengan penuh kasih sayang. Memenuhi seluruh kebutuhan mereka; sandang, papan, pangan, pendidikan, keamanan dan kesehatan mereka. Jauh dari tabiat menyakiti, apalagi membebani dan memalak mereka. Sebab, ketika mereka menyakiti, membebani dan memalak rakyatnya, bukan saja mendapatkan kebencian dan laknat dari mereka, tetapi juga doa (kutukan) dari Nabi SAW:

“Ya Allah, siapa saja yang diberi amanah untuk mengurus urusan umatku sekecil apapun, lalu memberatkan mereka, maka beratkanlah dia. Dan, siapa saja yang diberi amanah untuk mengurus urusan umatku sekecil apapun, kemudian dia bersikap penuh kasih sayang kepada mereka, maka kasihilah dia.” (HR Muslim, Ahmad, Ibn Hibban dan al-Baihaqi)

Masalahnya, bagaimana agar seorang pemimpin tersebut bisa mengurusi urusan rakyatnya dengan baik; bisa menjamin seluruh kebutuhan pokoknya, baik kebutuhan pribadi, seperti sandang, papan, pangan, maupun kebutuhan kolektifnya, seperti kesehatan, keamanan dan pendidikan dengan baik; bisa membantu mereka memenuhi kebutuhan skunder dan tersiernya? Maka, harus ada dua faktor yang sama-sama menentukan keberhasilannya. Pertama, faktor manusia (pemimpin)-nya; Kedua, faktor sistemnya.

Dalam konteks yang pertama, Islam menggariskan, bahwa seorang pemimpin, khususnya pemimpin negara, harus memenuhi kriteria pria, Muslim, adil, merdeka, berakal, baligh dan mampu. Selain kriteria personal ini, dia harus mempunyai kriteria kepemimpinan yang ideal. Al-‘Allamah Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, menyatakan ada tiga kriteria kepemimpinan, yaitu: kepemimpinan inovatif (qiyadah mubdi’ah), kepemimpinan inspiratif (qiyadah mulhimah), dan kepemimpinan cerdas (qiyadah dzakiyyah). Selain itu, menurutnya, tidak layak disebut kepemimpinan. Dari ketiga kriteria ini, kepemimpinan inovatif (mubdi’ah)-lah yang dibutuhkan oleh umat Islam, khususnya Indonesia, saat ini.

Kepemimpinan inovatif, layaknya orang super jenius yang unik. Orang super jenius tidak rela hanya menjadi orang terbaik dan terdepan, tetapi selalu membawa hal-hal baru yang belum dikenal oleh masyarakat. Dia membawa masyarakat untuk menyusuri jalan kepemimpinannya. Dia tidak percaya dengan apa yang menjadi kebiasaan mereka untuk menjadi yang terbaik, tetapi dia mengubah apa yang menjadi kebiasaan mereka, dan membuka jalan baru untuk mereka, lalu mendorong mereka untuk menyusurinya, sekalipun di sana banyak kesulitan, keletihan, pengorbanan dan pengerahan tenaga. Kepemimpinan inovatif ini juga tidak rela terhadap arah opini umum, maupun apa yang menjadi kebiasaan masyarakat. Kepemimpinan ini tidak berpikir untuk mengambil kepemimpinan mereka, tetapi meningkatkan level mereka dari kebanyakan orang, dan bisa melihat peristiwa di “balik dinding”, sehingga bisa membimbing masyarakat dan tahu persis apa yang ada di balik dinding itu, sementara masyarakat tidak mengetahuinya. Kemudian kepemimpinan ini berjuang untuk mengubah kebiasaan masyarakat, mengubah arah opini umum. Setelah itu, berusaha untuk mengambil kepemimpinan mereka, ketika mereka sudah menyerahkan darah dan hartanya di jalan yang mereka lewati, meski dilakukan dengan susah payah dan sulit. Pada saat itu, ia membawa kepemimpinan masyarakat itu dengan mengerahkan pikiran, nyawa dan harta dengan rela dan senang. Kepemimpinan ini tidak memimpin masyarakat dengan pemikiran masyarakat, tetapi membawa mereka dengan mengubah pemikirannya, dan tidak berjalan mengikuti mereka di jalan yang mereka lalui, tetapi menjadikan mereka berjalan mengikuti jalannya yang lebih sulit dan susah. Lebih dari itu, kepemimpinan ini berhasil menjadikan harga perjalanan mereka di jalan yang sulit, susah, mengerahkan pikiran dan nyawa sekalipun, dengan kedermawanan terhadap harta yang paling berharga. Dia juga tidak hanya berjalan di tengah-tengah krisis, sama sebagaimana dalam kondisi senang, tanpa membedakan di antara keduanya, tetapi dia juga menciptakan berbagai tantangan, merespons berbagai peristiwa dan krisis, lalu membakar kegersangan hingga bisa berjalan menyusuri kesulitan. Sebab, sebagian besar hidupnya adalah jihad, karena dia meyakini bahwa hidup yang sesungguhnya adalah kehidupan jihad.

Karena itu, Indonesia dan umat Islam di seluruh dunia saat ini membutuhkan pemimpin yang mempunyai karakter sebagai pemimpin yang inovatif. Karena umat Islam saat ini sudah terlalu lama terlelap dalam tidur panjang. Mereka harus disadarkan, dan diajak untuk menyusuri jalan kebangkitan, kemerdekaan dan kemajuan mereka, yang tentu tidak mudah. Namun, ini baru faktor personal dan kepemimpinan seseorang. Dengan kriteria personal dan kepemimpinan seperti itu, maka seseorang akan kredibel untuk menjadi pemimpin.

Namun, ini belum cukup, jika sistem yang digunakan memimpin rakyatnya bukanlah sistem yang baik. Sistem yang baik harus datang dari Dzat yang Maha Baik, yaitu Allah SWT. Itulah sistem syariah, yang digunakan untuk mengurus dan mengatur seluruh aspek kehidupan mereka. Baik dalam aspek pemerintahan, ekonomi, sosial, pendidikan, sanksi hukum, politik dalam dan luar negeri, maupun yang lain. Semuanya bersumber dari syariah. Hanya dengan itulah, kehidupan mereka akan dipenuhi berkah dari langit dan bumi.[]

Hafidz Abdurrahman
Lajnah Tsaqofiyah DPP HTI

 

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved