| [56] Menghadapi Invasi Militer Negara Kafir |
|
|
|
| Thursday, 14 July 2011 17:00 |
|
Kondisi yang dialami oleh kaum Muslim di Libya saat ini bukan tidak pernah terjadi di zaman khilafah. Ternyata, faktor yang menyebabkan terjadinya intervensi militer itu juga nyaris sama. Ketika beberapa wilayah Khilafah pada zaman Abbasiyah memisahkan diri dari negara induknya. Di barat Baghdad ada Dinasti Idrisi di Maroko (172-375 H/788 M-985 M), Dinasti Aghlabi di Tunisia (184 H-296 H/800 M-908 M), Dinasti Thulun di Mesir dan Suriah (254 H-292 H/868 M-967 M), Dinasti Ikhsyidi (323 H- 357 H/934 M-967 M), Dinasti Hamdaniah di Mousul dan Aleppo, Irak (317 H–399 H/929 M–1009 M). Sedangkan di timur Baghdad, ada Dinasti Tahiri di Persia (200 H-259 H/820 M-872 M), Dinasti Safari (254 H-289 H/867 M-903 M), Dinasti Samani di Sijistan, Karman, Jur-jan, Rayyi, dan Tabaristan (261 H-389 H/874 M-999 M), dan Dinasti Ghazwani di Iran bagian timur, Afganistan, Pakistan dan beberapa wilayah bagian India dengan pusat pemerintahannya di kota Ghazna. Di wilayah-wilayah inilah tentara Salib untuk pertama kali melakukan invasi militernya. Sejak pidato Paus Urban (26/11/ 1095 M) di Konstantinopel, tentara Salib masuk Asia Kecil, di bawah Dinasti Saljuk. Wilayah ini pun jatuh ke tangan tentara Salib (Juni 1097). Setelah itu, Antiokia menghadapi invasi tentara Salib selama 1 tahun (12 Oktober 1097 M-Juni 1098 M). Mousul dan Suriah pun tidak lama kemudian jatuh ke tangan tentara Salib. Palestina jatuh ke tangan mereka 7 Juli 1099. Perang Salib ini berlangsung kurang lebih 200 tahun. Tidak lama setelah itu, ibukota khilafah di Baghdad juga menghadapi serangan tentara Tartar, tahun 1258 M, tidak kurang 1,6 juta jiwa umat Islam melayang. Peristiwa ini merupakan titik kelam sejarah khilafah. Semuanya terjadi pada zaman Abbasiyah. Ketika beberapa wilayahnya melepaskan diri, dan negara menghadapi pengkhianatan dari dalam, seperti yang dilakukan Wazir al-Qami. Namun, periode ini berhasil diakhiri oleh umat yang mulia ini. Para pahlawan pun lahir di era itu. Sebut saja, Yusuf ibn Tasifin (1109 M), yang berhasil mengusir tentara Salib dari Andalusia; Khairuddin az-Zinki (1148 M), yang berhasil mengusir tentara Salib dari Damaskus; Shalahuddin al-Ayyubi (1187 M), yang memimpin Perang Hittin, dan berhasil mengembalikan Palestina dan Suriah ke pangkuan Islam; Malik Muzaffar Quthuz (1260 M) berhasil mengalahkan tentara Tartar dalam Perang Ain Jalut; Malik Qalawun (1281) berhasil mengembalikan Tripoli, Alepo dan Suriah dari tangan tentara tartar dan Salib. Meski mereka tidak berperang sebagai satu umat, di bawah satu komando kepemimpinan, yaitu Khilafah Abbasiyah, tetapi kekuatan umat ini tidak pernah hilang. Mereka adalah umat yang mencintai kematian, sebagaimana musuh-musuh mereka mencintai kehidupan. Beberapa fakta sejarah di atas menjelaskan kepada kita, bahwa yang terjadi di Libya saat ini merupakan pengulangan sejarah, di mana intervensi militer negara-negara kafir penjajah terjadi, ketika ada pengkhianatan di tubuh umat Islam. Pertama, mereka tidak hanya dikhianati oleh seorang Wazir al-Qami yang memuluskan invasi Tartar, tetapi juga oleh Qaddafi, Raja Abdullah Yordania, Basyar Asad Suriah, Raja 'Abdullah Arab Saudi, pimpinan tertinggi militer Mesir, Tunisia dan lain-lain. Kedua, mereka juga lemah setelah melepaskan diri dari negara induknya, sehingga tentara Salib dan Tartar berani menyerang mereka. Sebagaimana kini, ketika umat Islam hidup di bawah nation state. Bedanya, ketika itu Khilafah masih ada dan umat ini mempunyai para kesatria, seperti Yusuf ibn Tasifin, Khairuddin az-Zinki, Shalahuddin al-Ayyubi, Malik Tetapi, kini, baik Khilafah maupun para kesatria itu tidak ada. Ini berbeda jika keduanya ada, atau setidak-tidaknya ada kesatria. Jika saja Dewan Tertinggi Militer Mesir kesatria seperti Shalahuddin, Malik Muzaffar Quthuz dan Malik Qalawun, maka jeritan rakyat Libya akan mereka penuhi, dan tidak ada alasan intervensi asing di sana. Tidak hanya itu, mereka juga akan memberikan nushrah bagi tegaknya khilafah. Yang terjadi justru sebaliknya, Basyar Asad di Suriah bukannya menolong rakyat Libya yang dibantai Qaddafi, justru dia membantu Qaddafi; Raja Abdullah Arab Saudi, bukannya membantu rakyat Libya, justru malah membantu penguasa Bahrain; Dewan Tertinggi Militer Mesir justru mengeluarkan RUU untuk melarang demonstrasi; Junta Militer Tunisia juga melarang Islam menjadi asas partai dan organisasi. Jadi, sumber masalah bagi umat ini adalah nation state dan para penguasa mereka. Jika ini bisa diselesaikan, maka kembalinya khilafah yang telah dirindukan oleh seluruh kaum Muslim di dunia adalah soal waktu. Inilah yang sebenarnya yang menjadi alasan intervensi militer AS, Inggris dan Prancis saat ini di Libya. Alasan kemanusiaan itu hanyalah kedok, untuk menutupi niat jahat mereka yang sesungguhnya. Intervensi militer mereka justru dilakukan sebagai strategi “pasang kuda-kuda”, jika akhirnya khilafah berdiri. Dengan begitu, mereka telah siap tempur menghadapi khilafah yang baru berdiri. Atau setidak-tidaknya untuk melakukan psywar (perang psikologi), yaitu menakut-nakuti tentara dan umat Islam di kawasan itu, kalau-kalau mereka masih berniat mendirikan khilafah. Lalu, jika pada akhirnya Khilafah benar-benar berdiri, apa yang akan dilakukan oleh Khilafah untuk mengusir intervensi asing ini? Pertama, Khilafah akan menjelaskan kepada umat melalui berbagai media, seperti televisi, radio, internet, koran dan sebagainya, bahwa intervensi Kedua, karena intervensi militer ini juga berarti mereka siap memerangi khilafah, maka khilafah akan mengumumkan jihad kepada seluruh umat Islam sebagai satu umat di bawah satu kepemimpinan untuk mengusir mereka. Sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Khalifah Hisyam bin Abd al-Malik (724-743 M), saat mengangkat Abdurrahman al-Ghafiqi, seorang tabiin, untuk memimpin Perang Balat Syuhada' melawan koalisi tentara Prancis, Inggris, dll. Ketika itu, Abdurrahman al-Ghafiqi memobilisasi umat Islam dari berbagai suku dan bangsa untuk bergabung dalam salah satu peperangan terdahsyat dalam sejarah. Ketiga, khilafah segera mengkonsolidasikan umat Islam di seluruh dunia dan menyatukan wilayah mereka dengan membaiat khalifah. Meski sangat mungkin penguasa mereka tidak akan mau, tetapi semuanya itu tidak akan bisa menghalangi kekuatan umat, sebagaimana integrasi rakyat Timor Timur dengan Indonesia. Akhirnya, para penguasa itu hanya bisa gigit jari karena mayoritas rakyatnya yang Muslim itu telah meninggalkan mereka. Keempat, dengan integrasi ini, berarti ada 1,571 milyar umat Islam bersatu dalam satu negara; 27.519 unit senjata pertahanan darat; 9.333 unit artileri; 8.704 unit tank; 3.300 kendaraan pengangkut personel berlapis baja; 1.012 sistem peluncur roket; 13.181 pelontar martir; 13.687 senjata anti-tank; 5.779 unit senjata anti serangan udara; 3.536 unit pesawat tempur; 1.055 unit helikopter; 400 unit kapal perang; 33 unit kapal selam, dll. Ini baru data statistik dari lima negara, yaitu Indonesia, Pakistan, Mesir, Iran dan Turki. Bagaimana jika seluruh kekuatan angkata bersenjata seluruh negeri kaum Muslim digabungkan? Pasti lebih besar lagi. Kelima, dengan kembalinya wilayah Islam yang berserakan maka pasukan negara-negara kafir di Libya, Afganistan, Irak, dan lain-lain itu akan terkunci. Ini bisa menjadi neraka bagi mereka karena mereka akan dihabisi dan tidak akan ada bantuan yang bisa dialirkan kepada mereka. Karena seluruh wilayah dan pangkalan militer yang selama ini mereka pakai sudah ditutup dan tidak lagi bisa digunakan. Dengan begitu, mereka akan mudah dilumpuhkan dan tidak akan sanggup menghadapi kekuatan Khilafah. Wallahu a'lam.[] |




Oleh: Hafidz Abdurrahman, Lajnah Tsaqafiyah DPP HTI





