Banner
[46] Jodoh Membawa Hidayah PDF Print E-mail
Wednesday, 19 January 2011 13:31

Abdullah/Sebastian Reed
Mualaf asal Australia

Kata umpatan dan makian sering ia lontarkan ketika berdiskusi melalui internet dengan perempuan yang selalu merujuk pada Alquran itu. Di antaranya: Kamu gila sama buku kamu; Kamu sudah menikah dengan buku! Lebih baik tidak usah menikah dengan laki-laki; dan Kamu gila, kamu sesat. “Saya chatting di internet ini untuk cari istri bukan cari buku,” hardik Reed dalam bahasa Inggris pada perempuan yang kelak menjadi istrinya itu.

Abdullah Reed, itulah nama yang disandangnya setelah memeluk Islam. Sebelumnya ia bernama Sebastian Reed. Lelaki kelahiran tahun 1973, di kota Sidney, Australia, ini dibesarkan di tengah keluarga agnostik, mempercayai adanya Tuhan tetapi tidak memeluk satu agama pun. Hanya keluarga dari ibunyalah yang masih mengaku sebagai Yahudi yakni kakek, nenek dan pamannya.

Di tengah keluarga seperti itulah Reed tumbuh. Puncaknya pada umur 18 tahun ia pun meragukan keberadaan Tuhan. “Benarkah Tuhan ada?” tanyanya dalam hati. Pertanyaan itu terus menggelayut di benaknya. Pertanyaan itu, terus datang dan pergi namun menguat saat usianya menginjak 23 tahun. Ini membuatnya resah.

Ia tidak tertarik mendalami Yahudi karena pamannya pun tidak begitu meyakini ajaran tersebut. “Paman saya juga masih penganut agama Yahudi,  meskipun demikian keimanannya pun masih goyang-goyang, kadang-kadang juga tidak beryahudi,” ungkapnya.

Untuk menenangkan diri ia pun mulai latihan Yoga kepada orang Budha dan ia pindah ke Italia. Seorang bikshu setempat menyatakan bahwa Reed memang harus mempercayai keberadaan hal-hal yang tidak terindera, untuk memahami itu maka ia harus belajar kepada orang yang paham.

Setahun kemudian, tepatnya pada tahun 1998, Reed kembali ke Australia. Berbekal nasihat bikshu itu, ia mulai tertarik untuk mempelajari berbagai macam pemikiran spiritual, termasuk Kristen. Akhirnya Reed masuk ke gereja terdekat dari rumahnya untuk memahami pikiran dan agama mereka. Ia pun belajar Injil.

Namun sebelum masuk ke gereja, Reed bertanya dulu kepada pembina spiritualnya di Sydney apakah ia boleh masuk ke gereja dan mempelajari agama Kristen. “Boleh,” jawab pemuka agama Budha tersebut. Susah ia mempercayai ajaran Kristen tapi setiap hari Minggu ikut kebaktian di Gereja. “Saya memang masuk agama Kristen tetapi keyakinan saya masih sangat tipis, masih goyang,” akunya.

Cari Jodoh
Pada 2003, Reed ingin menikah karena tidak mau terus membujang. Maka di samping mencari calon yang cocok di gereja, Reed pun mencari jodoh lewat internet. Hingga suatu saat di tahun 2004, ia chatting dengan perempuan dari Bogor, Jawa Barat, yang juga siap menikah.

Namun perempuan tersebut aneh, berbeda sekali dengan perempuan lainnya yang pernah ia kenal. Setiap berdiskusi, perempuan tersebut selalu merujuk pada Alquran. “Alquran menyuruh perempuan untuk menggunakan kerudung secara sempurna,” begitulah jawaban perempuan itu ketika ditanya mengapa setiap foto yang dikirimnya selalu terselubung kain dan hanya wajahnya saja yang terlihat.

“Alquran melarang perempuan Islam menikah dengan lelaki yang tidak beragama Islam,” jawab perempuan itu ketika ditanya mengapa Reed harus masuk Islam dulu bila ingin menikahinya.

“Saya hanya akan menuruti perintah suami selama suami saya tidak melanggar Alquran,” lagi-lagi perempuan itu merujuk Alquran. Karena itu ia meminta Reed untuk membaca buku panduan (manual book) dari Allah SWT, Tuhan pencipta manusia, yang disebut perempuan itu sebagai Kitab Suci Alquran.

Begitulah di antara cuplikan diskusi Reed dengan perempuan itu di internet. Perempuan itu selalu merujuk Alquran. Saking seringnya perempuan itu merujuk Alquran,  Reed merasa heran, kesal dan marah. Maka tak jarang kata umpatan dan makian Reed lontarkan, setiap kali gadis di seberang pulau kanguru itu merujuk Kitab Suci Alquran.

Kalimat umpatan itu di antaranya: Kamu gila sama buku kamu; Kamu sudah menikah dengan buku! Lebih baik tidak usah menikah dengan laki-laki; Kamu gila, kamu sesat; Sedikit-sedikit merujuk kepada buku; dan Mengapa kamu tidak diam tentang bukumu?.

“Saya chatting di internet ini untuk cari istri bukan cari buku,” hardik Reed pada kesempatan chatting berikutnya. Tapi perempuan itu tidak marah dan tetap mau berdialog dengannya,  jari Muslimah kota hujan itu pun menuliskan, “Islam agamaku, Alquran rujukanku, saya diperintah Allah SWT, Tuhanku, untuk memberitahukan kepada kamu tentang kebenaran Alquran.”
Akhirnya Reed pun bersedia untuk membaca Alquran. “Baiklah saya mau baca Alquran tetapi ini saya lakukan karena ingin mengenal kamu, mengenal kesesatanmu, saya mau tahu mengapa kamu fanatik dan tidak mau keluar dari Alquran!” begitu jawab Reed dalam bahasa Inggris.

Tapi ketika membaca terjemah Alquran, ia melihat ada kedekatan antara Islam dan Kristen, karena ternyata di Alquran juga dibahas tentang Nabi-Nabi dan hari kiamat. Beranjak dari situ, Reed mulai mencari, menilai Islam dengan serius. Ia ingin membuktikan apakah Islam itu agama yang benar atau palsu.

Saat itu ia belum paham tentang kewajiban beribadah seperti shalat dan lainnya. Karena ia hanya tahu perbedaannya iman Kristen dan Islam saja. Terutama perbedaan terkait dengan Tuhan Yesus yang dalam ajaran Islam disebut sebagai Isa anak Maryam itu.

Kajiannya difokuskan pada apakah Yesus itu Tuhan atau bukan, anak Allah atau bukan.  “Saya baca lagi terjemah Alquran dengan lebih serius, tak lama kemudian saya lebih condong ke Islam karena konsep keesaan Tuhannya,” ungkap Reed. Ia pun berkesimpulan ternyata yang benar itu bahwa Yesus atau Isa adalah hamba dan utusan Tuhan, bukan Tuhan bukan pula anak Tuhan.

Setelah setahun chatting dan mengaji Alquran akhirnya ia memutuskan masuk agama Islam. Keluarga Reed memang penganut agnostik sejati sehingga tidak mempermasalahkan akidah Reed, mereka mempersilakan setiap anggota keluarganya memeluk agama apa saja atau tidak beragama sama sekali pun tidak mengapa. Kedua orang tuanya pun setuju ia menikah dengan seorang Muslimah dan tinggal di Indonesia.

Setelah kalimat Laa Ilahailallahu Muhammadarrasulullah tertancap di dadanya. Ia pun terbang ke Bogor untuk bertemu secara langsung dengan calon istrinya itu. Ayah perempuan itu bukan saja setuju ketika Reed melamar anaknya, tetapi ia langsung memeluk dan menangis dipelukan Reed ketika baru saja bertemu, seolah-olah Reed adalah anaknya yang telah lama hilang dan baru saja berjumpa kembali.

Ketika Media Umat bertanya, apakah ia akan berpindah agama lagi? Reed menyatakan memang beberapa kali dirinya berpindah-pindah agama tapi bukan main-main atau mempermainkan agama. Itu semua ia lakukan dalam rangka mencari kebenaran yang sebenarnya bukan kebenaran palsu.  “Kebenaran sejati itu saya temukan dalam Islam!” jawab Reed mantap.

Ia pun beryukur kepada Allah SWT yang telah memberikan kesempatan kepadanya untuk mendengar Alquran, membaca Alquran, sehingga ia yakin Allah SWT ada, hidup dan matinya manusia karena Allah. Sebelum membaca Alquran keyakinannya pun tidak sekuat ini tentang adanya akhirat, surga, dan neraka. “Saya percaya 100 persen tidak akan datang ajaran yang dapat membatalkan tauhid Islam,” teguhnya.[] joko prasetyo

 

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved