Banner
[47] Waktu Saya Buat Dakwah PDF Print E-mail
Thursday, 20 January 2011 13:48

Syaikh Ibrahim Utsman Abu Khalil, Jurubicara Hizbut Tahrir Sudan

Senyum selalu terhias di wajahnya. Jubah dan tutup kepala yang serba putih menjadi sangat kontras dengan kulitnya yang legam. Ia adalah Syaikh Ibrahim Utsman Abu Khalil, Jurubicara Hizbut Tahrir Sudan.

Ketika Konferensi Khilafah Internasional (KKI) pada Ahad (12/8/2007) di Stadion Gelora Bung Karno, Senayan Jakarta, ia pun tampil sebagai orator.Mantan koresponden Televisi Al Jazeera ini menyampaikan orasi yang bertema Berbagai Tantangan yang Mungkin akan Dihadapi oleh Daulah Khilafah Ketika Berdiridengan bahasa Arab yang fasih dan lantang.

Meski sebagian besar  peserta KKI tidak mengerti bahasa Arab, tetapi mereka dapat menangkap semangat  perjuangan yang digelorakannya, sehingga mereka serentak berteriak “Allahu Akbar” saat nadanya meninggi penuh semangat. Apalagi di akhir orasinya ia memekik dengan bahasa Indonesia aksen Arab, “Saatnya khilafah memimpin dunia!” maka serentak sekitar seratus ribu peserta meneriakkan takbir.

Tak Kenal Lelah
Usai KKI dan konferensi pers, ia benar-benar lelah. Lelaki kelahiran Kasila, Sudan Timur itu tidak langsung kembali ke Sudan. Ia akan tetap di Indonesia untuk beberapa hari ke depan tapi bukan untuk istirahat tetapi berkeliling menemui para ulama di Jawa Barat dan Jawa Timur.

Di Hotel Patrajasa Bandung, Jawa Barat, lelaki yang saat ini berumur 52 tahun ini mengadakan pertemuan dengan sekitar 100 tokoh Islam Jawa Barat, baik dari ormas Islam, parpol Islam, kampus, pesantren maupun masjid.

Nampak hadir pada acara yang diselenggarakan pada tanggal 14 Agustus 2007 itu, di antaranya adalah Prof Dr H Ahmad Sanusi(Mantan Rektor UPI Bandung); Prof Dr H Jusuf Amir Feisal (Ketum DDII Jabar), Prof Dr Sanusi Uwes(Ketua Muhammadiyah Jabar); Drs H Jaja Jahari, MPd(Ketum PUI Jabar); Dr H Solatun (akademisi); DrsHadiyanto Rachim, MSi (Sekum DDII); Drs Ahmad Baraja (Ketum Al Irsyad Jabar); Drs H Adam Anhari(Ketum Pemuda Muslimin Jabar); KH Asep Sudrajat(Pimpinan Ponpes Ulul Albab);serta perwakilan dari Banjar, Tasik, Garut, Ciamis, Banjar, Kab Bandung, Cirebon, Majalengka, dan Sumedang.

Sedangkan di Jawa Timur pertemuan diadakan di dua titik. Pertama di Ponpes An Najiyah Sidoresmo Surabaya pada Jumat (17/8/2007) malam dengan dihadiri 100 tokoh pro syariah dari Surabaya, Sidoarjo, Gresik dan Bojonegoro. Dalam sambutannya, pengasuh pondok disampaikan KH Mas Muhammad Yusuf bin Ahmad Muhajir. Respon dan pertanyaan para undangan begitu antusias, di udara terbuka lantai atas pesantren yang bersahaja itu.

Keesokan harinya,  Sabtu (18/8/2007) Abu Khalil bersama rombongan DPP HTI dan DPD I HTI Jatim menuju Ponpes Tebuireng Jombang, Pesantren yang sangat disegani di Nusantara ini. Forum ke dua ini diselenggarakan di Masjid Pesantren dengan dihadiri 125 tokoh dari Jombang, Mojokerto, Nganjuk dan Tulungagung .

Pengasuh Ponpes Tebuireng KH Shalahuddin Wahid (Gus Sholah) berkenan menyampaikan sambutannya, “ Silakan memperjuangkan khilafah, selama dilakukan dengan cara yang baik dan tanpa kekerasan.” Dialog berlangsung begitu penuh semangat, sebagian besar dalam bahasa Arab langsung. Salah satu yang menyampaikan tanggapan adalah Prof DR Jamaluddin Mirri Guru Besar IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Di Pesantren asuhan Gus Sholah ini, Abu Khalil diterima dan disambut oleh para ulama Tebuireng dan sekitarnya juga para santri yang sudah menunggu di Masjid Pesantren.Sebagaimana pada pertemuan-pertemuan sebelumnya dengan para Tokoh dan Alim Ulama di beberapa daerah, ia senantiasa menekankan akan kewajiban menegakkan Khilafah Islam.

Pada pertemuan ini, meski belum istirahat yang cukup sejak KKI, tetap penuh semangat memaparkan materinya dengan penjelasan tentang Islam sebagai mu'alij (solusi) atas segala permasalahan dalam kehidupan. Setelah itu ia menjelaskan bahwa Islam tidak akan mungkin eksis dan menjadi solusi jika tidak ada pemerintahan yang akan menjadikan Islam sebagai undang-undang resmi di dalam sebuah Negara. Sebagaimana yang telah yang telah dibuktikan dalam sejarah Islam selama 13 abad.

Ia juga berpesan kepada para ulama yang hadir agar senantiasa ada di barisan paling depan dalam perjuangan menegakkan khilafah. Karena para ulama lebih besar tanggung jawabnya dibanding umat secara umum. Para ulama banyak mengetahui apa yang tidak diketahui umat, termasuk dalam kewajiban menegakkan khilafah.

Ia mengingatkan para ulama jangan sampai menyembunyikan ilmu yang telah mereka ketahui. Karena Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang mengetahui sesuatu ilmu, tetapi ia menyembunyikannya ( tidak mengajarkannya), maka Allah SWT akan mengikatnya pada hari kiamat nanti dengan tali ikatan dari api neraka” (Hadis riwayat Abu Daud, Tarmizi, dan lain-lain)

Di bagian akhir pembicaraannya ia berharap agar Tebuireng bisa menjadi pusat perjuangan menegakkan khilafah, sebagaimana di jaman perjuangan kemerdekaan, Tebu Ireng telah menjadi pusat komando perjuangan memerdekaan Indonesia dari penjajah Belanda.

Harapan Syaikh Abu Khalil ini disambut baik oleh para ulama yang hadir. Pada sesi tanya jawab dan tanggapan beberapa ulama menyampaikan responnya. Mereka berharap agar Gus Sholah bisa merealisasikan harapan Syaikh Abu Khalil tersebut.

Seperti Sahabat
“Waktu saya adalah buat dakwah,” ujarnya kepadakontributor Media Umat.Sehingga seluruh waktunya dihabiskan untuk dakwah aktivitas lainnya hanyalah selingan untuk memulihkan kembali energi dakwah.

Tentu saja Abu Khalil menghadapi banyak rintangan dalam berdakwah, diantaranya permasalahan nafkah kehidupan dan pekerjaan. “Namun kami berusaha menghadapinya dengan cara mengingat bagaimana para fuqara dari kalangan para sahabat (semoga Allah meridhai mereka) dalam menjalani kehidupan,” ujarnya.

Mereka, lanjutnya, selalu ridha karena Allah, hidup dalam keterbatasan meski harus mengikatkan batu di perut-perut mereka karena kelaparan. Mereka menghadapi pemboikotan bangsa Quraisy. Mereka diisolasi di balik Syi'ib (lembah) Abi Thalib, para sahabat tetap bersabar.

Menyinggung masalah jam kerja yang padat yang dialami sebagian para pengemban dakwah, ia menyatakan hal itu sebetulnya bisa diatasi dengan cara melakukan aktivitas dakwah di tempat ia bekerja, tidak ada cara lain kecuali itu. “Pengemban dakwah laksana orang yang membawa minyak wangi dan parfum, menyebarkan wewangian dimana saja ia berada, sama saja baik ditempat kerja maupun lainnya,” ujarnya.

Tantangan berikutnya adalah tantangan yang berkaitan dengan masyarakat. Pengemban dakwah hidup ditengah-tengah masyarakat yang sibuk mencari harta. Kondisi masyarakat seperti ini menuntut dai untuk dapat menjelaskan kepada mereka bahwa kondisi ini tidak akan pernah berubah dengan bersibuk mencari harta. Karena urusan rezeki perkara yang telah pasti, di tangan Allah SWT.  “Sebaliknya kita dituntut berjuang mengubah kondisi ini menjadi kondisi Islami. Dengan begitulah kehidupan kita akan berubah, dan Allah akan ridha kepada kita,” tegasnya.

Kesulitan lainnya adalah keberadaan organisasi-organisasi yang mengatasnamakan organisasi Islam namun tidak menempuh metode Islam yang benar, tapi banyak Muslim terlibat didalamnya. Mereka saling berlomba karena dorongan keislaman mereka. “Menghadapi kondisi ini kita harus bersungguh-sungguh mengingatkan mereka pada metode yang benar, jalan yang hak dan baik yaitu metode Khilafah, bukan yang lain,” pungkasnya.[] roni ruslan/joko prasetyo

 

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved