Banner
[59] Hijrah dari Rasis ke Islam PDF Print E-mail
Thursday, 03 November 2011 18:52

Marc Springer,
Mantan Pimpinan Skinhead

Keluarganya sangat membenci Islam tapi justru Islamlah tambatan terakhirnya.

Siapa sangka anak dari pasangan suami-istri yang berlatar belakang militer Amerika yang sangat membenci Islam pada awalnya, malah masuk Islam. Tapi itulah bukti keagungan Allah, yang memberikan petunjuk kepada siapa saja yang mau mencari kebenaran.

“Saya ingat, saat masih kecil, saya mendengar ayah suka mencerca orang-orang Arab dan Muslim, mencela agama mereka, cara hidup dan ras mereka,” kata Marc Springer mengenang masa lalunya yang kelam.

Ternyata sang ayah bukan hanya membenci Muslim tanpa alasan, tetapi sering sekali berkata dan bertindak kasar kepada seluruh anggota keluarga termasuk kepada ibu serta kedua adik lelaki dan perempuannya. Sehingga Springer kecil tumbuh dalam rasa takut di bawah didikan orang tua yang juga pecandu alkohol itu.

Springer pun mencari ketenangan diri di luar rumah. Ia bertemu dan akrab dengan sekelompok pemuda yang berkepala plontos (skinhead), yang berkeliaran di jalan-jalan di sekitar rumahnya di Washington, Amerika. Justru kondisi tersebut malah memperparah keadaan. Kondisi Springer malah bertambah buruk setelah ia mencukur habis seluruh rambut di kepalanya dan bergabung dengan kelompok Skinhead.

Ketika usianya 16 tahun ia pun sempat tersentak saat seorang teman sekolahnya yang berasal dari Meksiko berkata, “Mengapa kamu bergaul dengan para pecundang itu, sebenarnya kamu bisa lebih baik daripada mereka.”

Namun, ia malah terjerembab lebih dalam lagi. Menjadi pecandu alkohol, pengguna narkoba dan sering berurusan dengan hukum. Setelah bertahun-tahun bergabung dengan kelompok rasis Skinhead, ia menjadi sosok yang sangat sadis dan ditakuti sehingga ia pun dinobatkan menjadi salah satu pimpinan gerakan Neo Nazi itu. Springer mengakui wataknya yang penuh kebencian dan sikap rasisnya, menurun dari ayahnya.

"Meski saya membenci ayah karena semena-mena kepada keluarga, saya ingin seperti ayah. Dari ayahlah, sikap rasis saya berasal," ungkap Springer

Evaluasi Diri

Ia pun mengakui meski demikian ia tidak dapat membungkam hati kecilnya yang selalu berteriak di lubuk yang paling dalam bahwa apa yang dilakukannya selama ini salah dan tidak adil. Maka pada usia 23 tahun ia pun mulai membaca banyak buku untuk  menghilangkan resah hatinya yang selalu berteriak itu. Ia banyak baca buku yang ia pinjam dari sebuah perpustakaan kecil. Mulai dari buku-buku karya Kant, Descartes, sampai buku-bukunya Tariq Ramadan dan Edward Said.

Ia menyadari kehidupannya selama ini begitu kacau dan ia mulai mempertanyakan banyak hal tentang hidupnya, termasuk keyakinan agamanya. Sejak itu, Springer merasa bahwa ia harus mengevaluasi kembali dirinya.

Ia mulai berpikir untuk lepas dari bayang-bayang ayah dan pengaruh buruk teman-temannya. Ia pun memiliki pacar yang juga seorang Skindhead. Namun alih-alih putus malah dinikahinya.

Kala itu, kata Springer, sedang hangat pemberitaan tentang perlawanan Intifada di Palestina yang mendorongnya untuk mencari tahu lebih dalam tentang gerakan Intifada itu.

"Ayah saya seorang rasis dan anti-Yahudi. Tapi kebencian ayah pada orang Arab lebih besar dibandingkan kebenciannya pada Yahudi. Oleh sebab itu, ayah selalu mendukung Israel. Tapi saya mengkaji kembali apa yang ada di pikiran saya saat masih kecil, saya memutuskan untuk mencari tahu tentang perjuangan di Timur Tengah itu," ungkap Springer.

Ia lalu membaca buku-buku sejarah dan politik di Timur Tengah. Tapi Springer merasa kesulitan memahaminya karena saat itu ia belum mengenal Islam dan Muslim. Sejak kecil, ia sudah belajar membenci Islam dari ayahnya tanpa pernah mengerti mengapa ia harus membenci Islam. Sedangkan sang istri sama sekali tidak berminat membahas masalah-masalah tersebut.

Ia mulai mempelajari apa itu Islam, ajaran dan sejarahnya dari berbagai artikel dan sumber-sumber dari internet. Karena meski waktu itu ia tinggal di Washington tapi ia belum tahu tentang keberadaan komunitas Muslim di sana. “Jadi, saya benar-benar tidak tahu harus bertanya pada siapa," ujar Springer.

Masuk Islam

Karena pekerjaan istrinya pindah ke Inggris, Springer pun turut pindah. Untuk beberapa waktu, Springer memanfaatkan kepindahannya ke Inggris untuk melakukan perjalanan ke seluruh Eropa sambil mempelajari sejarah negara-negara Eropa. Namun, pikirannya tetap tertuju pada Timur Tengah dan politik di sana. Springer mulai serius untuk mempelajari ajaran Islam, ideologi dan sejarah Islam, serta mulai membaca terjemahan Alquran.

Dari buku-buku yang dibacanya, Springer mengetahui bahwa banyak ritual-ritual Kristen yang sampai saat ini dilakukan umat Kristiani adalah hasil inovasi manusia, bukan berbasiskan pada ajaran Tuhan. Springer juga mencoba mempelajari agama Yudaisme, yang menurutnya justru lebih "aneh".

"Mereka, orang-orang Yahudi memperlakukan para nabi Allah dengan keji. Jika ajaran Yudaisme meragukan, mengapa pula saya memilih Yudaisme sebagai petunjuk hidup saya," tukas Springer.

Akhirnya ia pun bertemu dengan seorang Muslim asal Libanon yang cukup faqih. Ia pun banyak berdiskusi dengannya terkait dengan keinginannya masuk Islam. Setelah Muslim Libanon itu benar-benar yakin bahwa Springer memang sudah bertekad bulat maka ia pun mengajak Springer mengucapkan dua kalimat syahadat di sebuah masjid di London.

Namun sayang, kabar gembira tersebut menjadi kabar yang sangat buruk bagi istrinya. Sang istri sama sekali tidak berminat berdiskusi tentang Islam, menoleransi suaminya masuk Islam pun tidak, apalagi mengikuti jejak sang suami. Sehingga cerai pun tidak dapat dihindarkan lagi. Springer pun kembali ke Amerika dengan berat hati karena gagal membimbing istri.

"Tapi alhamdulillah, saya sekarang mengerti mengapa Allah memberikan semua peristiwa ini pada saya," imbuhnya. Di AS, Springer mendapatkan pekerjaan baru di Alaska. Tempatnya bekerja berjarak ratusan mil dari kota Anchorage dan Faribanks, yang cukup banyak komunitas Muslimnya di wilayah Alaska. Karenanya, Springer mengandalkan buku, internet dan sumber-sumber lainnya untuk terus mempelajari Islam.

Ia mulai berkenalan dengan banyak Muslim setelah sering melakukan perjalanan bisnis ke Washington DC. Ia lalu dikenalkan dengan seorang Muslimah keturunan Arab Saudi. Springer berkomunikasi lewat email dan telepon, tanpa pernah bertemu muka. Ia baru melihat wajah "kekasih"nya setelah datang melamar ke keluarganya di Washington DC. Keduanya lalu menikah, lengkaplah kebahagiaan Springer sebagai seorang muslim.

"Subhanallah, bagaimana Allah menuntun saya pada Islam sangat menakjubkan, dari seorang yang jauh dari agama dan dibesarkan dalam rumah yang penuh dengan ajaran kebencian, Allah menuntun saya ke jalan-Nya ..."

"Allah selalu ada, memperhatikan saya. Dia membimbing saya, melewati masa-masa berbahaya dan masa-masa yang buruk untuk menjadi seorang lelaki sejati dan menjadi seorang Muslim. Orang bilang, keajaiban tidak terjadi setiap hari, tapi cerita hidup saya membuktikan bahwa perkataan itu salah," pungkas Springer.[] joy/berbagai sumber

 

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved