Banner
[48] Mengambil Pelajaran dari Bencana PDF Print E-mail
Monday, 07 February 2011 14:51

Oleh: Rokhmat S. Labib, M.E.I.

 

Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan menjungkirbalikkan bumi bersama kamu sehingga dengan tiba-tiba bumi itu berguncang? Atau apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu? Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku? Dan sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (rasul-rasul-Nya). Maka alangkah hebatnya kemurkaan-Ku (TQS al-Mulk [67]: 16-18)

 

Berbagai analisis tentang bencana, acapkali hanya sampai pada kesimpulan  yang didasarkan atas pengamatan hukum alam. Terjadinya gempa misalnya, hanya dijelaskan akibat pergerakan magma dalam gunung berapi atau pergeseran lempeng-lempeng bumi. Tidak dikaitkan dengan kekuasaan Allah SWT. Barangkali, penjelasan inilah yang tidak membuat sebagian besar orang–terutama penguasanya—segera sadar dan bertaubat. Padahal, lempengan bumi itu tidak akan bergeser jika tidak digerakkan Allah. Kajian terhadap ayat ini pun menjadi amat penting agar aneka bencana itu bisa dijadikan sebagai pelajaran dan peringatan.

Jangan Merasa Aman dari Azab
Allah SWT berfirman:  Aamintum man fî al-samâ' (apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit). Dijelaskan al-Alusi, al-Jazairi, dan Abdurrahman al-Sa'di, bahwa man fî al-samâ' adalah Allah SWT. Namun ditegaskan oleh Abu Hayyan al-Andalusi, pengertian frase tersebut bermakna majâzî.

Menurut Ibnu Jarir al-Thabari, khithâb ayat ini ditujukan kepada orang-orang kafir. Demikian pula menurut al-Biqa'i, mereka adalah orang-orang yang mendustakan. Sedangkan al-Jazairi menyatakan, firman Allah SWT ini merupakan nasihat bagi seluruh hamba-Nya agar mereka beriman dan hanya beribadah kepada-Nya.

Dalam ayat ini terdapat al-wa'îd (ancaman keras) bagi orang-orang yang mendustakan peringatan-Nya. Ini ditunjukkan oleh huruf hamzah al-istifhâm yang—menurut Wahbah al-Zuhaili—bermakna sebagai al-wa'îd wa al-ikhbâr (ancaman dan pemberitahuan) bahwa Allah SWT Maha Berkuasa untuk menimpakan azab kepada orang-orang yang ingkar dan menyekutukan-Nya dengan yang lain. Realitas ini juga ditegaskan dalam QS al-An'am [6]: 65.
Azab yang diancamkan dalam ayat ini adalah: an yakh-syifa bikum al-ardh faidzâ hiya tamûr (bahwa Dia akan menjungkirbalikkan bumi bersama kamu sehingga dengan tiba-tiba bumi itu berguncang?). Pengertian yakhsyifa bikum al-ardh adalah yaghûru bikum al-ardh (membenamkan kamu ke bumi), seperti yang dialami oleh Qarun. Demikian al-Samarqandi dalam tafsirnya. Sedangkan pengertian fa-idzâ hiya tamûr adalah ketika bumi itu tadhtharibu watatahar-raka (bergoncang dan bergerak). Berubah dari sebelumnya yang tenang. Demikian al-Syaukani dalam tafsirnya.

Bumi adalah tempat manusia berpijak dan tinggal. Di atasnya pula, ditumbuhkan aneka buah dan tanaman yang dapat dinikmati manusia. Kenikmatan hidup di atas bumi juga dijelaskan dalam ayat sebelumnya (QS al-Mulk [67]: 15). Keadaan ini membuat manusia merasa aman dan nyaman hidup di atasnya. Tidak sedikit yang lupa, bahkan bersikap takabur dan berani melakukan kerusakan. Ayat ini mengingatkan, bumi yang kelihatan 'tak berdaya' diinjak-injak manusia setiap saat itu, bisa berubah dengan cepat jika Allah SWT menghendaki. Bumi itu bisa mendadak 'beringas', bergoncang dengan kencang, dan ke-mudian membenamkan orang-orang yang di atasnya hingga terkubur di dalamnya. Inilah yang pernah dialami Qarun beserta harta bendanya (lihat QS al-Qashash [28]: 81).

Ketika ini terjadi, siapa pun tidak akan berdaya menghadapinya. Kita bisa melihat de-ngan jelas ketika gempa terjadi. Ribuan, bahkan ratusan ribu nyawa melayang ketika diguncang gempa yang hanya beberapa menit saja. Lalu mengapa manusia masih saja berani ingkar dan sombong? Mengapa merasa aman dari azab Allah tatkala melakukan kerusakan dan pembangkangan?

Ancaman lainnya disampaikan dalam ayat berikutnya: Am amintum man fî al-samâ' an yursila 'alaikum hâsib[an] (atau apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu). Dijelaskan Fakhruddin al-Razi, pengertian al-hâsib adalah angin yang di dalamnya mengandung batu dan kerikil. Menurut Ibnu 'Abbas, azab inilah yang pernah ditimpa-kan kepada kaum Luth (lihat QS al-Qamar [54]: 34).
Dalam ayat ini manusia diingatkan, angin yang biasanya berhembus lembut dan menyejukkan tidak boleh membuat manusia merasa aman dari azabnya. Jika Allah SWT menghendaki, niscaya angin itu bisa menjadi badai yang memporak-porandakan segala sesuatu. Demikian kencangnya hingga me-nerbangkan kerikil dan bebatuan. Ketika ini terjadi, tidak ada satu tempat pun yang aman bagi manusia untuk berlindung. Hancurnya berbagai daerah yang diterjang badai angin, menjadi bukti amat jelas betapa dahsyat-nya azab Allah SWT itu.

Akibat Mendustakan Peringatan-Nya
Kemudian Allah menegas-kan: fasata'lamûn kayfa nadzîr (maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana [akibat mendustakan] peringatan-Ku?). Kata nadzîr dan nakîr merupakan bentuk mashdar yang bermakna al-indzâr dan al-inkâr. Demikian Abu Hayyan al-Andalusi. Dalam konteks ayat ini, pengertian nadzîr—menurut al-Baghawi—adalah indârî (peringatan-Ku). Sehingga, sebagaimana dipaparkan Ibnu Jarir al-Thabari, pengertian ayat ini:  Kalian akan mengetahui, wahai orang-orang kafir, bagaimana akibat peringatan-Ku kepadamu jika kamu mendustakannya dan membantah utusan-Ku.

Kemudian ditegaskan pula: Walaqad kadzdzaba al-ladzîna min qablihim (dan sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan [rasul-rasul-Nya]). Yang dimaksud dengan umat-umat sebelum mereka adalah kaum kafir dahulu. Kaum yang mendustakan peringatan Allah SWT itu pun merasakan azab yang didatangkan-Nya. Allah SWT berfirman: fakayfa kâna nakîr (maka alangkah hebatnya kemurkaan-Ku).

Sebagaimana pengertian nadzîr, kata nakîr di sini bermakna inkârî. Pengingkaran Allah SWT atas mereka adalah dengan menurunkan azab-Nya. Demikian al-Alusi dalam Rûh al-Ma'ânî. Dalam Alquran cukup banyak diberitakan tentang kaum yang mendapatkan azab yang dahsyat itu. Di antaranya adalah kaum Nuh, kaum 'Ad, kaum Tsamud, kaum Luth, Firaun dengan balatentaranya, dan lain-lain. Mereka semua adalah kaum mendustakan Allah dan rasul-Nya. Bahkan berani menantang azab Allah segera didatangkan. Pada akhirnya, mereka pun mengalami nasib yang sama.

Semua peristiwa itu seharusnya menjadi pelajaran penting bagi manusia. Sebagai makhluk yang lemah, tidak ada pilihan lain bagi manusia kecuali beriman dan taat kepada Allah SWT. Terlebih, keimanan dan ketaatan itu akan mengantarkannya kepada kebaikan pada dirinya. Di dunia dapat hidup bahagia dan di akhirat dimasuk-kan ke dalam surga-Nya. Nasib sebaliknya justru akan diterima jika ingkar dan membangkang terhadap perintah dan larangan-Nya. Di dunia hidup menderita, di akhirat dilemparkan ke dalam neraka. Dahsyatnya azab yang diterima kaum kafir di dunia masih belum seberapa diban-ding dengan azab di akhirat kelak (lihat QS al-Qalam [68]: 33).

Aneka bencana yang susul-menyusul di negeri ini seharusnya menyadarkan semua penduduknya. Berhenti dari segala kemaksiatan dan segera bertaubat. Meninggalkan sistem kapitalisme-liberalisme-demokrasi yang kufur dan mengundang murka-Nya; kemudian menggantinya dengan syariah dan khilafah. Masihkah kurang dashyatkah berbagai bencana itu agar kita mau bertaubat? Wal-Lâh a'lam bi al-shawâb.

 

Ikhtisar:
1.    Manusia tidak boleh merasa aman terhadap azab-Nya yang dahsyat ketika melakukan kemaksiatan dan pembangkangan.
2.    Peringatan Allah SWT itu seharusnya membuat manusia segera beriman dan taat terhadap perintah-Nya.
 

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved