| [55] Pilih Islam, Campakkan Lainnya |
|
|
|
| Thursday, 07 July 2011 14:38 |
|
Oleh: Rokhmat S. Labib, M.E.I. Kemudian jika mereka mendebat kamu (tentang kebenaran Islam), maka katakanlah, "Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku". Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi al-Kitab dan kepada orang-orang yang ummi, "Apakah kamu (mau) masuk Islam?" Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk. Dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah). Dan Allah Maha melihat akan hamba-hamba-Nya (TQS Ali Imran [3]: 20). Benarkah penganut Yahudi dan Nasrani diperbolehkan tetap memeluk agamanya selagi mereka tetap konsisten dengan agama mereka? Bagaimana pula terhadap penganut agama lainnya? Sebagai seorang Muslim yang meyakini kebenaran Islam, apa sikap yang harus kita lakukan kepada mereka? Ayat di atas memberikan jelas mengenai seputar pertanyaan tersebut. Jika Mereka Mendebat Kamu Terhadap sikap dan bantahan mereka, Allah SWT pun memberikan panduan dalam bersikap dengan firman-Nya: Faqul aslamtu wajhiya lil-Lâh Inilah sikap yang harus diambil dalam menghadapi bantahan mereka. Yakni sikap yang menunjukkan ketundukan dan kepasrahan kepada Allah Mengajak kepada Islam Frase al-ladzîna ûtû al-Kitâb merujuk kepada Yahudi dan Nasrani. Sementara al-ummiyyîn merujuk kepada Musyrik Arab dan kafir lainnya. Demikian Dalam ayat ini digunakan bentuk istifham (kalimat tanya). Akan tetapi, kalimat tersebut mengandung makna amr (perin-tah), yakni: aslimû (masuklah kepada Islam). Bahkan menurut al-Zujjaj sebagaimana disitir al-Syaukani, frase tersebut bermkna tahdîd (ancaman). Pengertian ini dinyatakan al-Qurthubi amat tepat. Sebab, maknanya: aaslam-tum am lâ? (apakah kamu mau masuk Islam atau tidak?). Tidak jauh berbeda, al-Zamakhsyari juga mengatakan: Sesungguhnya telah datang kepadamu al-bayyinât (petunjuk yang terang) yang mewajibkan Islam dan mengharuskan terjadinya keyakinan, apakah kamu mau masuk Islam atau tetap dalam kekufuran kalian? Pengertian tersebut menjadi makin jelas dengan kalimat berikutnya: Fain aslamû faqad [i]htadaw (jika mereka masuk Islam sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk). Artinya, jika mereka menyambut seruanmu dengan kesediaan mereka untuk meinggalkan agama mereka dan masuk Islam, maka mereka telah mendapatkan petunjuk kepada jalan keselamatan. Sebaliknya: Wain tawallaw (dan jika mereka berpaling). Jika berpaling dari Islam dan lebih memilih agama lainnya, maka: fainnamâ 'alayka al-balâgh (maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan [ayat-ayat Allah]). Rasulullah SAW hanya berkewajiban menyampaikan dakwah kepada mereka. Keputusan akhirnya diserahkan kepada mereka. Tentu saja, mereka harus menerima konsekuensi apa pun atas pilihan mereka itu. Diterangkan Ibnu Katsir, ayat ini dan semisalnya merupakan dalil yang paling jelas mengenai keumuman diutusnya Rasulullah SAW ke seluruh makhluk. Ini termasuk perkara ma'lûm min dînihi dharûrat[an] (yang telah dimaklumi karena demikian pentingnya dalam agama), sebagaimana ditunjukkan oleh al-Kitab dan al-Sunnah seperti QS al-A'raf [7]: 158, al-Furqan [25]: 1, dan hadits mutawatir bahwa Nabi SAW mengirimkan surat berisi dakwah kepada para raja dan berbagai komunitas manusia, baik dari kalangan Arab maupun ajam, Ahli Kitab maupun ummi. Tindakan tersebut dilakukan dalam rangka menjalankan perintah Allah SWT. Dan masih banyak lagi hadits-hadits lainnya sejalan dengannya. Jelaslah, ayat ini kian mengukuhkan kesimpulan bahwa tidak ada pilihan lain bagi manusia kecuali Islam. Sedangkan semua selainnya harus dicampakkan. Termasuk agama Yahudi dan Nasrani yang mewarisi sebagian kitab yang pernah diturunkan-Nya. Terlebih agama dan ideologi buatan manusia, seperti Hindu, Budha, Sosialisme, Sekulerisme, Liberalisme, Kapitalisme, dan berbagai isme lainnya. Jika demikian, mengapa masih ada di antara kita yang rela berbagai ideologi sesat itu terus diterapkan dalam kehidupan kita? Wa-lLâh a'lam bi al-shawâb.[] Ikhtisar1.Kita harus selalu konsisten memegang Islam. 2.Yang diwajibkan kepada kita adalah dakwah mengajak kepada Islam. Kita tidak bertanggung jawab atas penolakan mereka. 3.Agama dan ideologi selain Islam harus dicampakkan. |











