Banner
[58] Tawaran Menggiurkan untuk Ahli Kitab PDF Print E-mail
Thursday, 03 November 2011 15:09


Oleh: Rokhmat S. Labib, M.E.I.

Dan sekiranya Ahli Kitab beriman dan bertakwa, tentulah Kami tutup (hapus) kesalahan-kesalahan mereka dan tentulah Kami masukkan mereka ke dalam surga yang penuh kenikmatan. Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat, Injil dan (Alquran) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka. Di antara mereka ada golongan yang pertengahan. Dan alangkah buruknya apa yang dikerjakan oleh kebanyakan mereka (TQS al-Maidah [5]: 65-66).

 

Ahli Kitab merupakan sebutan untuk pemeluk Yahudi dan Nasrani. Pemeluk Yahudi mengaku sebagai pengikut Musa as. Sedangkan Nasrani menganggap sebagai pengikut Isa as. Dalam al-Quran cukup banyak ayat yang memberitkan kejahatan dan pembangkangan mereka. Meskipun demikian, selama mereka masih hidup, pintu taubat masih terbuka buat mereka. Jika mereka mau menerima Islam, mereka dijanjikan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Ayat ini menjelaskan secara lebih rinci tentang itu.

 

Jika Beriman dan Bertakwa

Allah SWT berfirman: Walaw anna Ahla al-Kitâb âmanû wa[i]ttaqaw (dan sekiranya Ahli Kitab beriman dan bertakwa). Ayat ini menjelaskan mengenai prinsip-prinsip penting yang berlaku bagi Ahli Kitab. Sebagaimana dalam nash-nash lain, pengertian Ahl al-Kitâb di sini menunjuk kepada Yahudi dan Nasrani. Pengertian tersebut semakin jelas dengan penyebutan al-Tawrâh dan al-Injîl dalam ayat sesudahnya. Telah maklum bahwa keduanya merupakan kitab bagi pemeluk Yahudi dan Nasrani.

Ayat ini diawali dengan harf law yang bermakna syarat. Perkara yang disyaratkan kepada mereka adalah âmanû wa[i]ttaqaw (beriman dan bertakqwa). Âmanû artinya  mereka mengimani keimanan yang dituntut Allah dari mereka. Termasuk keimanan yang paling penting adalah beriman kepada apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW sebagaimana yang diperintahkan di dalam kitab-kitab Allah yang turunkan terhadap mereka. Demikian al-Syaukani dalam Fat-h al-Qadîr. Ibnu Katsir menyatakan bahwa seandainya mereka beriman kepada Allah dan rasul-Nya. Atau secara lebih spesifik seperti dinyatakan al-Zamakhsyari, al-Baidhawi, dan al-Biqa’i, mereka mengimani Nabi Muhammad dan petunjuk yang diturunkan kepadanya.

Selain beriman juga wa[i]ttaqaw. Dalam Alquran, kata taqwâ memiliki makna syar’i. Yakni, menjalankan semua perintah Allah SWT dan menjauhi semua larangan-Nya. Al-Samarqandi menafsirkannya, ittaqaw al-syirk wa al-ma’âshî (menjauhi syirik dan kemaksiatan).

Apabila dua persyaratan itu dipenuhi, maka mereka berhak memperoleh dua perkara. Pertama: lakafarnâ ‘anhum sayy`âtihim (tentulah Kami tutup [hapus] kesalahan-kesalahan mereka). Ini berarti, mereka tidak dihukum atas berbagai kesalahan yang telah mereka lakukan sebelumnya. Dan kedua: wa laadkhalannâhum Jannât al-Na’îm (dan tentulah Kami masukkan mereka ke dalam surga yang penuh kenikmatan). Balasan ini menandakan diterimanya amal shalih mereka. Mereka pun mendapatkan ganjaran terbesar, yakni surga yang penuh dengan aneka kenikmatan.

Inilah dua perkara yang akan diberikan Allah SWT di akhirat kepada Ahli Kitab jika mau beriman dan bertakwa. Mengenai keutamaan Ahli Kitab yang bersedia beriman juga ditegaskan Rasulullah SAW dalam sabdanya: Siapa saja dari kalangan Ahli Kitab yang beriman dengan nabinya dan beriman kepadaku, maka dia mendapatkan dua pahala (HR al-Bukhari dari Abu Burdah dari Bapaknya).

 

Jika Menegakkan Hukum Allah

Jika ayat sebelumnya menjanjikan balasan di akhirat, maka ayat ini berikutnya menjanjikan balasan yang diberikan di dunia. Allah SWT berfirman: walaw annahum aqâmû al-Tawrâh wa al-Injîl (dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan [hukum] Taurat, Injil). Sebagaimana ayat sebelumnya, ayat ini juga didahului dengan law yang berarti syarat.

Perkara yang dipersyaratkan kepada Ahli Kitab adalah aqâmû al-Tawrâh wa al-Injîl. Menurut al-Syaukani, ini berarti mereka mau menegakkan hukum-hukum yang terkandung di dalamnya. Termasuk di dalamnya adalah mengimani apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Wahbah al-Zuhaili menyatakan, mereka menegakkan kedua kitab itu dengan mengamalkan semua kandungannya secara sempurna, baik iman yang shahih –termasuk di dalamnya mengimani Nabi SAW—maupun amal shalih.

Di samping itu juga: wamâ unzila ilayhim min Rabbihim (dan [Alquran] yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya). Menurut Ibnu ‘Abbas dan lainnya, sebagaimana dikutip Ibnu Katsir, yang dimaksud dengannya adalah Alquran. Alquran merupakan kitab yang ditujukan untuk seluruh manusia, termasuk Ahli Kitab. Allah SWT berfirman: Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan (TQS al-Maidah [5]: 15). Di samping itu, Alquran tersebut juga berfungsi sebagai mushaddiq[an] (membenarkan) dan nâsikh[an] (menasakh berlakunya hukum-hukum) kitab-kitab sebelumnya, sebagaimana ditegaskan dalam QS al-Maidah [5]: 48. Oleh karena itu, sekalipun semua kitab lainnya memang diimani, sejak Alquran diturunkan, hanya Alquran yang wajib diterapkan. Ketentuan ini juga berlaku bagi Ahli Kitab.

Jika perkara tersebut mereka penuhi, maka mereka pun akan mendapatkan balasan kebaikan di dunia. Allah SWT berfirman: la`akalû min fawqihim  wa min tahti arjulihim (niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka). Artinya, Allah SWT memberikan rezeki kepada mereka berupa hujan dari atas mereka yang bermanfaat buat mereka dan tumbuh-tumbuhan dari tanah. Demikian al-Samarqandi dalam tafsirnya, Bahr al-‘Ulûm. Menurut Fakhruddin al-Razi, bisa juga bermakna al-mubâlaghah (bentuk penyangatan) yang menunjukkan keadaan yang luas dan subur. Mengenai hal ini, ditegaskan dalam TQS al-A’raf [7]: 96), al-Jin [72]: 16, Nuh [71]: 11-12, dan al-Thalaq [65]: 2-3.

Mendapatkan tawaran amat menggiurkan itu, tidak semua mau menerimanya. Sikap mereka terpecah menjadi dua kelompok besar. Pertama: Minhum ummat[un]  muqtashidatun] (di antara mereka ada golongan yang pertengahan). Kata muqtashid merupakan bentuk ism al-fâ’il dari kata al-iqtishâd. Menurt al-Razi, secara bahasa kata al-iqtishâd berarti al-i’tidâl fî al-‘amal (seimbang dalam beramal), tidak berlebihan dan tidak lalai. Sedangkan pengertian ummah muqtashidah dalam ayat ini adalah orang-orang yang beriman dari kalangan Ahli Kitab, seperti Abdullah bin Salam dari Yahudi dan al-najasyi dari Nasrani. Ada pula yang menafsirkan mereka adalah

Dan kedua: wa Katsîr[un] minhum sâ`a mâ kânû ya’lamûn (dan alangkah buruknya apa yang dikerjakan oleh kebanyakan mereka). Jika kelompok yang pertama hanya disebutkan minhum, maka kelompok kedua ini disebut katsîr[an] minhum (sebagian besar di antara mereka). Ini menunjukkan jumlah mereka yang mengerjakan perbuatan buruk lebih banyak. Dijelaskan al-Jazairi, keburukan yang mereka kerjakan adalah kekufuran, kemusyrikan, kejahatan, dan kerusakan. Realitas ini tentu sangat mengherankan. Betapa tidak. Tawaran yang amat menggiurkan, mereka tolak. Sebaliknya justru lebih memilih jalan yang mengantarkan kepada mereka kepada kesengsaraan dunia dan akhirat. Sungguh sebuah sikap yang tidak pantas ditiru!

 

Ikhtisar:
  1. Jika Ahli Kitab beriman dan bertakwa, diberikan balasan kebaikan di dunia dan di akhirat.
  2. Balasan di akhirat berupa: ampunan dan surga, sedangkan di dunia berupa keluasan rezeki.
  3. Di antara Ahli Kitab ada yang mau beriman dan sebagian besar lainnya terus berada dalam kekufuran
 

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved