Banner
[58] Negara Gagal Jaga Susila PDF Print E-mail
Monday, 11 July 2011 15:03

Iffah Ainur Rochmah,
Juru Bicara  Muslimah HTI

 

Pornografi marak. Siapa saja dengan mudah dapat mengaksesnya. Efek teror pornografi pun merebak. Wanita baik-baik bahkan yang masih balita pun jadi korban perkosaan. Beberapa remaja melakukan pesta seks. Tapi negara tidak dapat berbuat banyak. Apa akar masalahnya sehingga negara yang berpenduduk mayoritas Muslim ini gagal menjaga susila anak bangsa? Lantas bagaimana solusinya? Temukan jawabannya dalam wawancara Wartawan Tabloid Media Umat Joko Prasetyo dengan Juru Bicara Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia Iffah Ainur Rochmah. Berikut petikannya.

Negeri ini tengah diteror oleh industri pornografi?
Benar, Indonesia saat ini tengah diteror oleh industri pornografi, bahkan bisa juga dikatakan negeri ini tengah dicengkeram penjajahan pornografi. Buktinya, konten porno di media cetak, novel, komik, lukisan, VCD, acara televisi, apalagi melalui internet begitu mudah ditemukan dan dikonsumsi oleh siapa saja dari semua umur dan latar belakang sosial. Bahkan Associated Press (AP) menempatkan Indonesia sebagai surga pornografi kedua setelah Rusia.

Apa motif dari membanjirnya produk porno di negeri yang mayoritas berpenduduk Muslim ini?
Yang paling kasat mata adalah keuntungan materi. Industri pornografi adalah mesin uang  yang sangat produktif. Secara global, keuntungan lebih dari 7 milyar dolar AS per tahun. Jumlah besar penduduk Indonesia ini adalah sasaran menggiurkan bagi pelaku bisnis pornografi.

Bukan hanya itu, mereka tidak sekadar meraih keuntungan materi namun juga menyebarkan pemikiran liberalisme dan gaya hidup serba boleh (permissif). Jelas ini merusak masyarakat yang mayoritas Muslim.

Lebih miris lagi kalau kita cermati ternyata korban kecanduan pornografi kebanyakan adalah anak dan remaja, maka sebenarnya pornografi juga telah mengantarkan pada penghancuran generasi muda, masa depan umat Islam.

Tentu saja dengan kondisi umat Islam seperti ini, musuh-musuh Islam dan kaum Muslim yang selama ini takut pada kebangkitan Islam akan gembira melihat hancurnya bibit-bibit kejayaan Islam.

Apa dampak dari teror pornografi ini?
Banyak. Pertama, meningkatnya kejahatan seksual; banyak wanita baik-baik dan anak di bawah umur menjadi korban pelecehan seksual dan perkosaan
seiring semakin banyak menyebarnya materi pornografi.

Kedua, seks bebas, kehamilan diluar nikah dan aborsi terutama pada generasi muda; dr. Boyke mengungkap fakta bahwa 50 persen pengunjung klinik
aborsi berumur 15-20 tahun dan 44 persen hamil di luar nikah. Bahkan rata-rata setiap menit ada dua remaja melakukan aborsi. Pemicu terbesar seks bebas adalah karena pelaku terlalu sering terpapar pornografi dan pornoaksi.

Ketiga, memengaruhi psikologi anak dan melemahkan produktifitas; paparan konten pornografi menghasilkan adiksi/kecanduan. Ketika seseorang kecanduan materi porno maka otak dan energinya akan dipenuhi upaya memenuhi naluri seksualitasnya saja. Produktifitasnya akan menurun. Lihat saja, remaja saat ini lebih senang pacaran  dibanding belajar.

Keempat, menghancurkan institusi pernikahan; seseorang menjadi mudah berselingkuh, berzina dan berujung pada perceraian.

Dampak dan akibat lainnya seperti merebaknya penyakit kelamin, orientasi seks yang menyimpang serta berbagai bencana kemanusiaan karena banyaknya anak di luar nikah dan lain sebagainya.

Tetapi itu semua tentu belum seberapa, bila dibanding dengan azab Allah SWT di akhirat kelak karena melakukan keharaman dan bahkan kemaksiatan yang besar.

Begitu nyata bahayanya, tetapi mengapa materi porno begitu mudah dijumpai?
Itulah kondisi yang semakin menegaskan bahwa negeri ini sedang diteror dan dijajah pornografi. Tidak saja terjadi satu atau dua tahun ini. Namun sudah belasan tahun kondisinya tidak berubah bahkan semakin buruk.

Kepornoan semakin merebak, perilaku bebas semakin digandrungi. Semua karena tidak adanya ketegasan untuk memberantas tuntas dengan melarang total peredaran dan pemanfaatan kepornoan. Bahkan pelaku bisnis porno atau siapa pun yang menangguk untung dari aktifitas haram ini tidak mendapatkan sanksi yang tegas.

Negeri ini terlalu toleran terhadap kepornoan dibandingkan dengan Cina yang menutup total ratusan situs porno. Bahkan Indonesia boleh dianggap lebih bebas dibanding negara-negara Barat yang mengatur ketat penyebaran materi pornografi.

Negara telah gagal menjaga susila bangsa?
Tidak berlebihan kita katakan demikian. Karena nyatanya rasa malu, harga diri, dan kesucian telah kehilangan makna. Penduduk Indonesia yang mayoritas Muslim telah menuju pada kehancuran karena menjadi pelaku maupun penikmat pornografi.

Alih-alih menunjukkan perilaku dan akhlak Islam dalam kehidupan bermasyarakat, ketelanjangan yang menjadi identitas keprimitifan malah menjadi tradisi. Tidak ada lagi kebanggaan sebagai bangsa yang berbudaya tinggi dan lepas dari keprimitifan.

Apa penyebab kegagalan tersebut?
Karena masih mempertahankan sekulerisme-demokrasi dan kapitalisme sebagai  pilar kehidupan bangsa. Kegagalan memberantas pornografi akan terus
berlangsung jika masih ada kebebasan seksual.

Kebebasan seksual merupakan salah satu ciri khas kehidupan  kapitalis-sekuler. Tidak boleh ada kungkungan aturan dari Tuhan, selama ada manfaat dan keuntungan segalanya harus dihalalkan dan selama ada permintaan dan penawaran, maka sesuatu, termasuk pornografi, harus diijinkan beredar.

Maka selamanya pornografi akan gagal diatasi sekalipun bahayanya nyata menghancurkan. Jika benar-benar ingin lepas dari bahaya pornografi, tidak boleh hanya mengaturnya namun harus memberantas tuntas hingga ke akar-akarnya. Dan hanya dengan Islam kita mampu melakukannya.

Apa solusi yang ditawarkan Islam?
Islam memberi definisi porno secara tegas. Islam mengatur tentang aurat, yaitu bagian tubuh yang harus ditutupi dan tidak boleh ditampakkan. Islam  melarang penyebaran segala bentuk pornografi dan pornoaksi di tengah masyarakat. Siapapun yang melanggarnya akan dikenai sanksi yang berat.

Islam melarang beberapa perilaku yang berkaitan dengan tata pergaulan pria dan wanita. Islam melarang wanita berhias berlebihan di ruang publik (tabarruj), bersunyi-sunyian pasangan yang tidak terikat pernikahan (khalwat) apalagi sampai berpelukan dan berciuman, bercampur baur antara pria dan wanita (ikhtilât) dan segala perbuatan yang dapat mengantarkan pada perzinaan.

Islam akan mewujudkan sebuah masyarakat berperadaban tinggi yang bebas dari kepornoan, bersih dari penyakit sosial seperti seks bebas, disorientasi seksual dan perselingkuhan. Tidak ada lagi istilah hamil di luar nikah dan aborsi akibat kehamilan tak diinginkan. Kejahatan seksual diminimalisasikan.

Bisakah itu diterapkan dalam sistem yang berlaku sekarang?
Solusi Islam di atas hanya mungkin diterapkan oleh institusi politik Islam yakni khilafah. Karena hanya khilafah yang akan memberlakukan syariat Islam secara kaffah, menghapus kapitalisme sekular dari kehidupan umat.

Khilafah akan menerapkan sistem ekonomi Islam. Dengannya akan terhapus keraguan para produsen, pelaku dan penyebar serta orang-orang yang selama ini menjadikan pornografi sebagai sumber perekonomiannya. Mereka akan beralih melakoni bisnis yang islami, jauh dari kenistaan. Juga akan diterapkan sistem pergaulan Islam dan sistem pendidikan Islam.

Pada masa kekhilafahan masih ada, peradaban tingkat tinggi dihasilkan oleh Islam di Andalusia, Cordoba, Granada dan Sevilla. Saat itu, musik dan seni
juga bisa berkembang tanpa menonjolkan kepornoan.[]

 

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved