| [59] Obama dan Amerika, Teroris Sebenarnya! |
|
|
|
| Monday, 11 July 2011 17:45 |
|
Harits Abu Ulya, Pasca hancurnya menara kembar WTC, Amerika langsung menuding Osama bin Laden sebagai otak peristiwa 11 September 2001 itu. Dengan pongahnya Amerika langsung membombardir Afghanistan dalam rangka memburu Osama. Kini Osama telah berpulang. Akankah Amerika menarik tentaranya dari Afghanistan? Benarkah Osama otak pemboman WTC? Lantas siapa sebenarnya teroris itu? Temukan jawabannya dalam wawancara wartawan Tabloid Media Umat Joko Prasetyo dengan Ketua Lajnah Siyasiyah DPP Hizbut Tahrir Indonesia Harits Abu Ulya. Benarkah Osama telah syahid? Mengapa? Karena sudah membunuh Osama, akankah Amerika meninggalkan Afghanistan? Mengapa? Berarti memburu Osama hanya alibi saja? Amerika telah berbohong? Pernyataan yang menyebutkan Osama sebagai otak bom WTC pun bohong juga? Indikasinya? Seorang Bob Graham dan Porter Goss yang ditunjuk sebagai ketua Komisi 11 September untuk melakukan investigasi peristiwa tersebut justru hasilnya ditolak sedikitnya oleh 25 orang mantan pejabat CIA, FBI dan lembaga keamanan lainya secara resmi, karena dianggap hasil komisi tersebut penuh kedustaan dan menutupi hal sebenarnya. Mereka meragukan keterlibatan Osama bin Laden. Jadi apa motif sebenarnya menyerang Afghanistan? Dalam kontek ini, Amerika mengarang cerita adanya kelompok atau negara yang mengancam demokrasi dan perdamaian dunia ala Amerika sebagai teroris, karenanya wajib diperangi dan menjadi musuh bersama. Amerika berkata, bersama Amerika memerangi terorisme atau bersama terorisme menjadi musuh Amerika dan sekutunya! Kalau begitu sebenarnya siapa yang teroris, Osama atau Obama? Bahkan di tahun 2010 merelokasi pasukan dari Irak dan melipatgandakan jumlah pasukannya di Afghanistan. Di tahun 2009 jumlah korban perang Afghanistan meningkat hingga 40 persen. Dan akibat invansi AS, menurut hitungan AFP lebih dari 10.000 orang, sekitar seperlimanya warga sipil, telah tewas akibat kekerasan di Afghanistan hingga tahun 2010. Obama seorang presiden AS dengan kesan tampilan simpatik tapi sebenarnya radikal dan mengokohkan AS sebagai negara teroris (terrorist state). Obama dan AS-nya yang sebenarnya paling layak dengan label teroris yang sebenarnya (the real terrorist). Tapi mengapa media di Indonesia malah memosisikan Osama sebagai teroris dan Obama sebagai polisi dunia? Lebih parah lagi kemudian menelan mentah-mentah tuduhan tersebut seraya menerjunkan diri dalam skenario imperialis Amerika. Lihat saja, bagaimana proyek global war on terrorism (GWOT) Amerika telah menyeret sebagian besar dunia Islam dengan penguasa fasiknya segendang seirama mengikuti arahan AS. Di level lokal, stigma teroris membias menjangkau setiap eksistensi yang dianggap mengancam kepentingan status quo yang bercokol dan membahayakan kepentingan Amerika di dunia Islam. Dengan alasan membahayakan tatanan demokrasi dunia dan sekulerisme maka dicap radikal, fundamentalis, dan akar dari terorisme. Sepeninggal Osama, apakah “terorisme” akan berhenti? Mereka akan menjadi hantu yang membuat Amerika dan sekutunya tidak bisa tidur nyenyak sepanjang kolonialisasi AS berlangsung di dunia Islam. Ada juga kelompok yang menjadikan Osama adalah simbol perlawanan dan figur panutan serta inspirasi untuk melakukan perlawanan. Maka jenis yang kedua ini juga akan melahirkan mimpi buruk dan datangnya tak diduga-duga. Terakhir ada kelompok terorisme sebagai produk intelijen, artinya ini adalah terorisme buatan (fabricated terrorist) yang akan terus diproduksi penguasa zalim selama target di balik isu teroris itu belum dicapai pemerintah. Di Indonesia, apa akan dijadikan pijakan untuk mengokohkan kontra terorisme dan deradikalisasi Islam? Inilah kunci kontinyuitas proyek kontra-terorisme, bergantung kepada ada atau tidaknya sesuatu yang dianggap membahayakan kepentingan ideologi Barat-kapitalis. Dan paska runtuhnya ideologi komunis hanya Islam yang diangap bahaya bagi kapitalisme global. Jargon “terorisme” menjadi topeng yang efektif untuk melanggengkan penjajahan Amerika di dunia Islam dengan judul kontra terorisme atau GWOT dalam skala global. Apa yang harus dilakukan untuk melawan penjajahan itu? Itu jalan keluarnya, jika tidak maka saya katakan mereka akan seperti yang Allah gambarkan dalam Alquran Surat Al Baqarah Ayat 165-167; suatu hari mereka pasti akan menyesalinya dan ingin melarikan diri dari persekongkolan itu sejauh-jauhnya. Di akhirat mereka akan tertimpa azab yang pedih.[] |











