| [60] Korupsi Marak, Dampak Sistem Neolib |
|
|
|
| Tuesday, 12 July 2011 13:27 |
|
Ichsanuddin Noorsy, Semisal arisan, kini giliran skandal di Partai Demokrat kembali disorot publik. Mulai dari dugaan minta suap pembangunan Wisma Atlet hingga gratifikasi ke Mahkamah Konstitusi. Sebelumnya Demokrat pun habis-habisan membela bailout Century. Pertanyaannya, mengapa parpol gemar korupsi? Mengapa rakyat selalu jadi korban? Temukan jawabannya dalam wawancara wartawan Media Umat Joko Prasetyo dengan Pengamat Kebijakan Publik Ichsanuddin Noorsy. Berikut petikannya. Tepatkah putusan Partai Demokrat mencopot Nazaruddin dari jabatan bendahara umum partai tapi tidak menariknya dari DPR ? Kenapa? Selain Wisma Atlet dan gratifikasi MK, Nazar pun terkait masalah batubara. Tapi mengapa Nazarudin seolah kebal hukum? Jadi sebenarnya Nazarudin bukan kebal hukum tapi dia hanya pandai menyelimutinya saja. Jadi baru tersibak selimutnya sekarang. Ya kasus Nazaruddin dan Rosa hanya persoalan waktu saja. Selain kasus yang terkait Nazar, ada skandal lain yang mengindikasikan keterlibatan Partai Demokrat? Kalau dengan skandal Bank Century (sekarang Bank Mutiara)? Buktinya? Yang lainnya? Tidak. Tak satu pun pejabat yang terlibat kasus Century itu masuk ke ranah hukum. Tak ada sedikitpun pejabat-pejabat itu yang terkena, yang masuk ke ranah hukum. Siapa yang Anda maksud? Bagaimana peran Demokrat dalam menyelamatkan keduanya sehingga tidak tersentuh hukum? Yang mereka lupa adalah, dengan posisi begini sesungguhnya Demokrat bukan hanya memberikan akibat Sri Mulyani dan Boediono tersandera secara politik tetapi juga tersandera secara hukum. Tetapi pada saat yang sama juga itu potensi menyandera partai Demokrat sendiri. Nah, meski menimbulkan perdebatan tajam apakah Demokrat tersandera oleh kasus ini atau tidak tapi paling tidak dengan masuknya persoalan Century ke ranah hukum maka orang akan menyatakan tidak ada asap tanpa api. Itu artinya tingkat yang demikian mengamankan kebijakan Century tentu mengamankan akar masalahnya. Jadi Demokrat bela Sri Mulyani dan Boediono agar Demokrat selamat? Jadi istilah saya, tidak mungkin ada asap tanpa api. Tidak mungkin Demokrat itu seperti kapas yang diterbangkan oleh angin kemana dia pergi ke sanalah dia tiba, tidak bisa kaya gitu, mustahil itu. Jadi patut diduga kuat, Demokrat menerima kucuran dana dari bail out Century itu? Sekarang memang Demokrat yang lagi disorot media, sebelum-sebelumnya juga partai-partai lain terkait skandal korupsi juga. Fenomena apa ini? Kenapa partai-partai itu seperti itu? Korupsi dan lain sebagainya, untuk apa sih anggota partai berkorupsi? Jadi boleh dikatakan, kalau anggota partai itu melakukan korupsi itu tuntutan dari partainya? Dengan seperti itu, apakah rakyat tidak mengetahui, terus marah dan ingin mengganti sistem neolib dengan sistem yang lain dengan sistem yang lebih baik? Menikmati suap semua, itulah yang saya sebut sebagai suap politik. Jadi rakyatnya sendiri tidak punya kesadaran supaya tidak bisa disuap. Selama rakyat tidak menolak disuap, ya selama itu pula sistem neolib ampuh. Indonesia ini gampang kok, kasusnya hanya kasus politik perut. Politik hajat hidup orang banyak, jadi kalau politik hajat hidup orang banyak ini dia cekal maka rakyat Indonesia akan menghamba untuk tidak dicekal. Tolong ditulis seperti itu, jadi gampang sekali kok. Politik Indonesia hanya politik mencekal hajat hidup orang banyak. Nah kasus pelepasan harga minyak, harga pangan menurut mekanisme pasar, itu sebenarnya dalam rangka bagian dari melaksanakan lebih lanjut pencekalan hajat hidup orang banyak menurut mekanisme pasar. Nah pada saat itulah politisi berkuasa, memainkan itu semua. Jadi di sini yang paling diuntungkan siapa? Partainya atau politisinya? Rakyat yang disuap untung juga? Jadi yang mereka bilang keberhasilan pembangunan itu pada hakikatnya rakyat kehilangan harkat martabat. Mereka kehilangan harkat martabat karena miskin, karena hartanya dirampok oleh kebijakan-kebijakan pro asing, pro pemodal. Sementara mereka disuruh menjadi pekerja-pekerja tak berharga, menjadi terhina. Di rumahnya sendiri mereka menjadi babu, menjadi budak tak karu-karuan.[] |











