| [69] Kapitalisme, Perlebar Jurang Kesenjangan |
|
|
|
| Friday, 03 February 2012 15:26 |
|
Reza Pankhrust, Dosen London School of Economics (LSE) Inggris Sampai wawancara ini berlangsung, sudah 42 hari warga Amerika melakukan aksi ke jalan memprotes ketimpangan sosial dan ekonomi antara satu persen kapitalis yang menguasai bursa saham dan moneter yang berpusat di Wall Street, New York, dengan 99 persen rakyat Amerika. Para demonstran menamai aksi tersebut dengan istilah Menduduki Wall Street (Occupy Wall Street, OWS). Mengapa itu terjadi? Akan seperti apa nasib kapitalisme? Untuk menemukan jawabannya, wartawan Tabloid Media Umat Joko Prasetyo mewawancarai dosen universitas terkemuka di Inggris London School of Economics and Political Science (LSE) Reza Pankhrust. Berikut petikannya. Pesan apa yang Anda tangkap dari aksi massa OWS tersebut? OWS dimulai pada 17 September lalu, ketika sekelompok massa mencoba memprotes Wall Street, meniru protes yang dilakukan massa di Timur Tengah seperti di lapangan Tahrir Mesir dan lainnya. Namun, sayang tidak ada kepemimpinan dalam pergerakan massa tersebut, sehingga tidak ada manifesto yang jelas terkait tujuan-tujuan dan ide-ide yang diperjuangkannya. Tapi yang jelas, OWS merupakan sebuah reaksi dari kesenjangan pendapatan di Amerika yang lebih terbuka sebagai akibat krisis keuangan di Barat akhir-akhir ini. Bukan hanya di Wall Street, demonstrasi serupa juga muncul di beberapa kota lain di Amerika yang mempresentasikan ketidakpuasan rakyat Amerika terhadap kapitalisme. Jajak pendapat terbaru juga menunjukkan bahwa hampir setengah dari masyarakat Amerika berpikir bahwa Occupy Wall Street merupakan sentimen mayoritas publik Amerika. Mengapa rakyat Amerika marah dan tidak puas terhadap kapitalisme? Sebagai negara yang terdepan dalam mengusung ideologi kapitalisme, ternyata Amerika tidak mampu meratakan kesejahteraan terhadap rakyatnya sendiri. Buktinya terjadi kesenjangan kekayaan yang begitu mencolok. Sekitar 25 persen orang kaya Amerika menguasai sekitar 87 persen kekayaan di sana. Lebih ekstrimnya, sekitar satu persen orang terkaya di sana menguasai 40 persen kekayaan Amerika. Di sisi lain bahkan semakin banyak rakyat Amerika yang mengalami rawan pangan. Saat ini di Amerika, sekitar 40 juta orang hidup dalam kemiskinan, dengan 17 juta rumah tangga yang hidup dengan ketidakamanan pangan. Tuntutan mereka yang paling menonjol apa? Awalnya, aksi OWS ini mendesak pemerintah agar sepersen orang terkaya di Amerika tersebut dikenakan pajak lebih banyak lagi untuk membantu perekonomian dalam masa krisis keuangan. Namun kini, pemahaman rakyat Amerika meningkat. Dalam aksi-aksinya saat ini, mereka menyatakan bahwa kapitalisme adalah sistem untuk memfasilitasi orang terkaya untuk mempertahankan dan menambah modalnya dengan mengorbankan sebagian besar rakyat. Karena krisis keuangan, semua orang selain orang Amerika terkaya, menghadapi kesulitan besar. Padahal krisis tersebut diakibatkan ulah orang-orang terkaya di masyarakat Barat yang bermain di sektor keuangan. Namun bukannya, mereka dinyatakan pailit, pemerintah malah menyediakan uang untuk menyelamatkan sistem perbankan. Uang yang disuntikkan pemerintah Amerika kepada orang-orang terkaya ini ternyata didapat dari pajak langsung dan tak langsung. Padahal di waktu bersamaan, Amerika pun menghadapi masalah lain seperti pengangguran akibat krisis tapi pemerintah lebih mengutamakan memberikan dana segar kepada orang-orang terkaya tersebut. Tapi, apa yang terjadi setelah sektor perbankan diselamatkan dengan menggunakan uang rakyat itu? Orang-orang terkaya di Amerika ini mulai bertindak persis seperti sebelum krisis terjadi. Mereka terus memberlakukan budaya memperkaya diri sendiri dengan berbagai program bonusnya. Bagaimana dengan di Inggris, apakah masyarakatya juga tidak puas dan marah terhadap kapitalisme? Di Inggris juga tumbuh kemarahan dari masyarakatnya yang merasakan bahwa adanya segelintir orang yang memperkaya dengan mengorbankan kaum miskin. Gaji sebagian besar pegawai di Inggris tidak naik saja sudah bagus, lantaran sebagian lainnya di-PHK. Di samping itu, mereka pun menghadapi peningkatan biaya hidup akibat inflasi terutama setelah kenaikan harga bahan bakar. Namun para eksekutif puncak dari seratus perusahaan terbesar di bursa saham London (The Financial Times Stock Exchange, FTSE) dilaporkan telah menerima kenaikan gaji rata-rata hampir 50 persen pada tahun lalu. Seperti halnya di Wall Street, rupanya budaya bonus di London juga diberlakukan hanya beberapa tahun setelah sektor perbankan diselamatkan oleh pemerintah Inggris. Melihat kenyataan tersebut, masyarakat merasakan kemarahan yang sama terhadap pemerintah yang tampaknya terikat pada kepentingan korporasi dan sektor perbankan, yang telah menyebabkan kekecewaan luas dengan proses politik secara keseluruhan. Kerusuhan yang terjadi di Inggris baru-baru ini merupakan ekspresi dari kemarahan dan ketidakpuasan tersebut. Masyarakat Inggris secara umum marah dan menilai bahwa pencuri sebenarnya bukanlah para penjarah tetapi para politikus dan kelas elite dalam masyarakat. Apakah Anda melihat kemarahan serupa di belahan bumi lainnya? Kemarahan serupa memang tengah terjadi di berbagai belahan dunia. Di Timur Tengah ada kemarahan besar terhadap rezim despotik. Kemarahan ini muncul sebagai akibat dari beberapa faktor. Di antaranya adalah penguasa yang represif, menolak identitas Islam, dan juga tidak adanya kesetaraan ekonomi yang melahirkan sekelompok elite kecil yang terus menumpuk kekayaan sedangkan di waktu yang sama sebagian besar rakyat terperosok dalam kemiskinan. Jadi sebenarnya penguasa Timur Tengah ini lebih murni dalam menerapkan sistem kapitalisme. Sehingga lebih menghasilkan ketidaksetaraan dan kemiskinan massal. Sementara di Eropa dan Amerika, penguasa setempat harus menerapkan beberapa bentuk distribusi kekayaan melalui program jaminan sosial dalam rangka untuk menenangkan masyarakat yang resah dan marah. Sebenarnya, apa sih yang diinginkan masyarakat dunia? Tapi apa yang telah diberikan kapitalis? Kebanyakan manusia ingin dapat menjalani hidup mereka dalam martabat dan di bawah aturan hukum. Pada umumnya memang orang dapat mengenali apa itu keadilan atau pun penindasan. Realitas kapitalisme, seperti yang ditunjukkan sejarah sampai hari ini adalah, ternyata para elite pemegang modal memutar uangnya dengan cara mengorbankan massa. Sehingga timbul kesenjangan sosial. Dalam bentuk yang paling dermawan, untuk meredam kemarahan dari kesenjangan tersebut mereka akan memberikan jaminan sosial. Sedangkan dalam bentuk yang paling despotik, para pemburu keuntungan ini melakukan berbagai cara hingga terbunuhnya jutaan orang tidak bersalah. Lantas, apa yang menyebabkan ideologi dan sistem korup ini masih ada? Kapitalisme tetap diterapkan, lantaran tidak ada alternatif praktis di kancah internasional saat ini, sampai sebuah ideologi dan sistem alternatif muncul untuk menantangnya di panggung internasional. Bagaimana agar masyarakat meninggalkan ideologi rusak tersebut? Satu-satunya cara adalah melalui kembalinya agama Islam di panggung internasional sebagai aktor politik. Agar hal itu terjadi tentu saja diperlukan pembentukan sistem politik Islam sebagai aktor praktisnya yang disebut sebagai khilafah. Apa yang Islam tawarkan? Sehubungan dengan krisis keuangan yang terjadi saat ini, itu cukup untuk mengonfirmasi bahwa sistem kapitalisme menganggap masalah utama ekonomi adalah penciptaan kekayaan, sedangkan Islam memandang masalah utama ekonomi adalah distribusi kekayaan. Perbedaan memandang masalah utama ekonomi ini merupakan perbedaan filosofis yang fundamental. Dan itu saja sudah dapat menyelesaikan banyak masalah yang saat ini dihadapi Barat pada khususnya. Hal ini terlepas dari pelarangan bunga (riba) dalam sistem Islam, yang merupakan faktor utama di balik krisis keuangan saat ini. Jika kita mempertimbangkan lebih mendalam, di luar masalah ekonomi, dasar fundamental seluruh sistem Islam adalah ketaatan pada aturan Allah SWT, yang membebaskan manusia dari penghambaan terhadap keinginan dan hasrat manusia lainnya. Ini berarti pembentukan sebenarnya dari aturan hukum, ditetapkan oleh wahyu, yang menjamin semua orang diperlakukan secara adil di bawah aturan yang konsisten. Bukan kemunafikan dan kekerasan seperti yang dipertontonkan negara-negara kapitalis sekarang. []
|











